Hakikat Menulis dan Prinsip Pembelajaran Menulis

Advertisement
Continue Reading Below

Menulis merupakan suatu proses berpikir berkelanjutan, mencobakan dan mengulas kembali. Kegiatan menulis berkembang melalui latihan secara terus menerus. Pada hakekatnya menulis dapat dibagi menjadi tiga aspek, yaitu 

  1. menulis sebagai proses berpikir, 
  2. menulis sebagai proses berpikir meliputi serangkaian aktivitas, dan 
  3. menulis sebagai proses berkaitan dengan membaca. 

Hal tersebut dipaparkan sebagai berikut. Menulis sebagai proses berpikir. Menulis sebagai suatu proses menuangkan ide, gagasan, perasaan dalam bentuk tulis. Salah satu subtansi retorika dalam menulis adalah penalaran yang baik. Hal ini berarti bahwa seorang penulis harus mampu mengembangkan cara-cara berpikir yang rasional (Syafi’ie, 1988:43). 

Menulis sebagai proses berpikir yang meliputi serangkaian aktivitas. Menulis sebagai proses berpikir yang berupa karangan, baik karangan ilmiah maupun karangan sastra. Karangan sebagai hasil kreativitas diperoleh melalui serangkaian aktivitas menulis. Menurut Tomkins (1994:126) rangkaian aktivitas menulis terdiri dari pramenulis, pengedrafan, perbaikan, penyuntingan, dan publikasi. 

Menulis sebagai proses berpikir berkaitan erat dengan membaca. Menulis berkaitan erat dengan membaca. Kegiatan membaca dan menulis merupakan kegiatan yang mempunyai hubungan yang erat dan saling mendukung. Hal ini terlihat pada saat sebelum menulis, saat menulis, dan saat sesudah menulis. 

Dilihat dari segi kegiatan sebelum menulis, siswa memerlukan pengetahuan awal dan informasinya berkaitan dengan topik yang digarap. Dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan, kegiatan membaca merupakan salah satu sarana yang penting dan tepat. 

Dilihat dari segi kegiatan saat menulis, siswa melakukan kegiatan berpikir untuk menuangkan ide-ide atau gagasan secara jelas dengan bahasa tulis. Dalam proses tersebut diperlukan kesungguhan dalam mengolah, mengatur, dan menata gagasan-gagasan yang talah ditulis. Dalam hal ini diperlukan kegiatan membaca secara berulang-ulang apa yang ditulis untuk mengetahui kekurangan-kekurangan yang ada sehingga tulisan tersebut dapat dipahami dengan baik oleh pembaca. 

Dilihat dari saat sesudah menulis, salah satu kegiatan yang dilakukan adalah siswa dapat membacakan tulisannya kepada orang lain dengan memperhatikan ketepatan lafal, intonasi, dan kelancaran dalam membaca. Hal ini dilakukan agar lebih memperjelas makna tulisan yang dihasilkan.  

Prinsip Pembelajaran Menulis 

Pembelajaran menulis akan terlaksana secara terarah dan efektif apabila guru menggunakan prinsip-prinsip sebagai pedoman pembelajaran. Dixon dan Nessel (1983:40) mengemukakan beberapa prinsip mengenai pembelajaran menulis. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut: 

  1. Dalam kegiatan menulis siswa harus berdasar pada topik pribadi yang bermakna. Prinsip mengisyaratkan bahwa topik yang dipilih merupakan topik yang dipahami dan digemari oleh siswa. 
  2. Sebelum menulis hendaknya diberi percakapan. Prinsip ini mengisyaratkan agar kegiatan menulis didahului dengan kegiatan bebicara tentang pengalaman, pengetahuan, dan kegemaran siswa dalam kaitannya dengan topik. Oleh karena itu, sebelum menulis perlu diberi serangkaian pembahasan secara lisan tentang topik dan kerangka yang akan dikembangkan. 
  3. Menulis bukan merupakan suatu keterampilan yang mudah. Prinsip ini mengisyaratkan agar keterampilan menulis diajarkan dalam konteks yang menyenangkan sehingga siswa bergairah untuk menulis dan terhindar dari rasa frustasi. 
  4. Kegiatan menulis hendaknya diberikan dalam bentuk komunikasi bukan dalam sekedar memberikan tugas menulis begitu saja. Segala ide dan gagasan yang akan ditulis hendaknya merupakan sesuatu yang dapat mereka tuangkan melalui tulisan sehingga ide atau gagasan tersebut dapat dikomunikasikan kepada orang lain. 
  5. Melakukan pengoreksian kesalahan. Kesalahan tata bahasa, penyusunan frasa, dan kesalahan mekanik sebagai akibat keterbatasan pengetahuan tentang kebahasaan, hendaknya disikapi sebagai sesuatu yang wajar. Pengoreksian kesalahan tata bahasa dan mekanik dilaksanakan setelah siswa sudah selesai dalam menulis. 
  6. Antara pembelajaran menulis dan membaca atau keterampilan lainnya hendaknya memiliki hubungan yang jelas. Pembelajaran menulis hendaknya mempunyai keterkaitan dengan apa yang telah dibaca. Dalam mengembangkan meteri tulisan, siswa diberi tugas membaca buku bacaan yang dapat digunakan untuk memperkaya ungkapan dan memperluas isi tulisan. 

Berdasarkan prinsip pembelajaran menulis yang telah diuraikan di atas, guru dapat melaksanakan pembelajaran menulis dengan mudah. Selain itu, pembelajaran yang berdasarkan pada prinsip tersebut dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk menulis dengan baik sampai taraf sempurna melalui bimbingan guru. Dengan demikian, tujuan dalam pembelajaran menulis akan tercapai sesuai dengan yang diharapkan.

Advertisement
Continue Reading Below