Jenis-Jenis Historiografi Dalam Penulisan Sejarah Indonesia

Advertisement
Continue Reading Below

Historiografi merupakan gabungan dari dua kata yaitu history yang berarti sejarah dan grafi yang berarti deskripsi atau penulisan. Penulisan sejarah adalah cara untuk merekontruksi suatu gambaran masa lampau berdasarkan data yang telah diperoleh yang didahului dengan penelitian.

Setelah membaca pengertian diatas, lalu muncul pertanyaan, siapakah para peneliti tersebut? Jawabannya adalah mereka orang-orang yang menulis peristiwa-peristiwa masa silam melalui berbagai fakta yang ada atau disebut Sejarawan.

Tanpa adanya Sejarawan mustahil kejadian di masa lalu dapat direkonstruksi melalui fakta-fakta yang dihasilkan dengan penelitian. Peran fakta dalam penulisan sejarah, memiliki posisi yang sangat penting, karena jika dalam sejarah tidak ada fakta maka sejarawan kesulitan untuk mengungkapkan cerita sejarah.

Historiografi dalam ilmu sejarah merupakan titik puncak seluruh kegiatan penelitian sejarah. Dalam metodologi sejarah, historiografi merupakan bagian terakhir. Langkah terakhir, tetapi langkah terberat, karena di bidang ini letak tuntutan terberat bagi sejarah untuk membuktikan legitimasi dirinya sebagai suatu bentuk disiplin ilmiah.

pembagian serta perkembangan historiografi indonesia

Jenis Historiografi Berdasarkan Cakupan Tema

Berdasarkan cakupan temanya, para sejarawan membagi historigrafi menjadi beberapa bagian yaitu:

  1. Historiografi sejarah dunia, yaitu suatu peristiwa yang terjadi dapat mempengaruhi perkembangan dunia internasional. Misalnya, karya yang berjudul From World to Cold War.;Churchill, Roosevelt, and the Internastional History of the 1940’s, karya David Reynolds
  2. Historiografi Sejarah regional, yaitu suatu peristiwa yang dapat dirasakan oleh kawasan tertentu, atau suatu peristiwa yang terjadi dapat mempengaruhi perkembangan di wilayah tertentu.contoh, historiografi yang berjudul Asia Tenggara dalam Kurun Waktu 1450-1680, oleh ASnthoni Reid.
  3. Historiografi sejarah nasional, yaitu sejarah yang dapat dirasakan oleh suatu negara atau dapat mempengaruhi tatanan kehidupan bangsa dan negara. Contoh, historiografi karya M.C. Ricklefs yang berjudual Sejarah Nasional Indonesia Modern1200-2008
  4. Historiografi Sejarah local, yaitu peristiwa yang terjadi hanya berpengaruh pada suatu daerah tertentu saja dan tidak menyebar ke daerah lainnya. Conoth, historiografi karya Robert B. Cribb yang berjudul Gejolak Revolusi di Jakarta 1945-1949.

Sedangkan di Indonesia, Historiografi mengalami perkembangan yang cukup pesat. Terjadinya perkembangan historiografi di Indonesia disebabkan oleh peristiwa yang telah terjadi di negeri ini.

Itu disebabkan, Indonesia mengalami beberapa fase peristiwa penting, mulai dari zaman Hindu-Budha hingga masuknya Islam, penjajahan yang sangat lama dan dijajah oleh beberapa negara, kemudian Indonesia merdeka dengan perjuangan rakyat Indonesia hingga kehidupan modern di zaman yang seperti ini.

Dengan adanya beberapa fase tersebut maka historiografi Indonesia dapat terbagi menjadi empat corak, yaitu historiografi tradisional, historiografi kolonial, historiografi nasional dan historiografi modern. Setiap perkembangan historiografi tersebut memiliki karakteristik, metode, dan motivasi penulisan yang berbeda-beda satu dengan yang lain. Berikut ini penjelasannya!

Historiografi Tradisional

Historiografi tradisional adalah penulisan sejarah yang dimulai dari zaman Hindu-Budha sampai masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia. Penulisan sejarah di zaman Hindu-Budha pada umumnya ditulis di prasasti, naskah-naskah kuno yang bertujuan supaya generasi penerus dapat mengetahui peristiwa di masa lalu terutama di zaman kerajaan saat seorang raja memerintah suatu kerajaan.

Pada dasarnya yang ada di historiografi tradisional fakta tidak begitu penting, karena para penulisnya lebih sering membahas tentang mitos dan sedikit yang membahas tentang fakta yang ada.

Dalam historiografi tradisional terdapat unsur mitos di sebabkan oleh unsur mistik atau kepercayaan yang telah dipercayai baik penulis maupun masayarakat, sehingga penulis tidak memperdulikan adanya fakta.

Mitos lebih mengedepankan subyektifitas dari pada obyektifitas. Obyektifitas tidak cocok dengan mitos, karena obyektifitas bertanggung jawab pada kebenaran obyek yang berwujud dalam bentuk dokumen.

Sifat-Sifat Penulisan Historiografi Tradisional

Dalam historiografi tradisional memiliki corak penulisan yang berbeda dengan historiografi lainnya. Untuk mengetahui bagaimana penulisan dalam historiografi tradisional maka adapula sifat-sifat penulisan historiografi tradisional yaitu :

  1. Region-sentries atau kedaerahan, biasanya di pengaruhi oleh ciri budaya masyarakat didaerahnya. Seperti halnya cerita-cerita ghaib yang ada dilingkungan sekitar.
  2. Cenderung mengabaikan unsur fakta karena dipengaruhi dari sistem kepercayaan yang dimiliki masyarakat atau dari alam pikiran penulis saat menulis suatu naskah.
  3. Adanya kepercayaan tentang kekuatan sakti dan unsur magis yang menjadi pangkal dari berbagai peristiwa alam, termasuk kehidupan manusia.
  4. Percaya magis atau sihir yang dilakukan tokoh-tokoh tertentu.
  5. Religio sentris gambaran dari tokoh-tokoh yang ditonjolkan dalam cerita naskah.
  6. Tidak membedakan hal-hal yang khayal dan hal-hal yang nyata.
  7. Sumber datanya sulit ditelusuri kembali bahkan terkadang mustahil untuk dibuktikan.
  8. Feodalisme sentris, yaitu penulisan yang menggambarkan kehidupan para bangsawan feodal, tidak membicarakan peran masyarakat, segi-segi sosial, dan ekonomi dari rakyatnya.
  9. Besifat region sentris (kedaerahan) , yaitu penulisan sejarah banyak dipengaruhi oleh factor kedaerahan. Misal tentang cerita gaib dan magic yang terjadi di daerah itu.
  10. Raja atau pemimpin dianggap mempunyai kekuatan gaib dan 19olonial yang tinggi, bertuah dan sakti.
  11. Istana sentris, yaitu penulisan sejarah untuk kepentingan kerajaan (raja dan keluarganya) yang dominan ditampilkan atau dituliskan. Kehidupan yang digambarkan seolah-olah hanya untuk kalangan istana dan sekitarnya. Kebanyakan historiografi tradisional kuat dalam silsilah tetapi lemah dalam hal kronologis dan detail-detail biografi.
  12. Religi magis, yaitu penulisan sejarah yang dihubungkan dengan kepercayaan dan hal-hal yang gaib

Contoh Historiografi Tradisional

Contoh-contoh historiografi tradisional di Indonesia dibagi menjadi dua zaman yaitu pada masa Kerajaan Hindu-Budha dan masa Kerajaan Islam.

Historiografi Masa Hindu-Budha

  1. Babad Pasundan
  2. Babad Parahiangan
  3. Babad Tanah Jawa
  4. Kitab Pararaton
  5. Kitab Negarakertagama
  6. Babad Galuh

Historiografi Masa Islam

  1. Babad Cirebon
  2. Babad Banten
  3. Babad Diponegoro
  4. Babad Demak
  5. Babad Aceh

Tak selamanya Indonesia menggunakan historiografi tradisional dalam menulis sejarah. Karena historiografi tradisional telah berakhir pada tahun 1913 dengan adanya kehadiran buku karya dari Hosein Djajadiningrat yang berjudul Cristische Beschouwing Van Sadjarah Van Banten.Penulisan sejarah di Indonesia semakin berkembang tidak hanya berhenti pada historiografi tradisional.

Akan tetapi dilanjutkan dengan historiografi kolonial yang mana penulisan sejarahnya identik dengan penulisan bangsa-bangsa asing yang pernah menjajah Indonesia.

Historiografi Kolonial

Historiografi kolonial merupakan penulisan sejarah bangsa-bangsa asing di Indonesia. Bangsa-bangsa tersebut tentunya pernah menjajah Indonesia, seperti Portugis, Inggris, Jepang bahkan Belanda. Historiografi kolonial biasa dikenal dengan Europa Centrisme atau Belanda Centrisme.

Dikatakan Europa Centrisme atau Belanda Centrisme dikarenakan yang diuraikan atau dibentangkan secara panjang lebar adalah aktivitas bangsa Eropa atau Belanda, pemerintahan kolonial, aktivitas para pegawai kompeni (orang-orang kulit putih), seluk beluk kegiatan para gubernur jenderal dalam menjalankan tugasnya di tanah jajahan, yakni Indonesia.

Historiografi kolonial ditulis oleh sejarawan atau orang-orang pemerintah kolonial yang intinya bahwa yang membuat adalah orang barat. Pembuatan historiografi ini dimaksudkan untuk dijadikan sebagai bahan laporan pada pemerintah kerajaan Belanda, sebagai bahan evaluasi menentukan kebijakan pada daerah kolonial. Oleh karena motivasinya adalah sebagai bahan laporan, maka yang ditulisnya pun adalah sejarah dan perkembangan orang-orang asing di daerah kolonial khususnya Indonesia.

Olahe karena itu, dalam penulisanya lebih menonjolkan peran bangsa Belanda serta memberi tekanan pada aspek politik dan ekonomi. Kata-kata yang mereka gunakan sangat merugikan bangsa Indonesia, misal untuk menyebut perlawanan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia dengan kata pemberontak.

Ciri-Ciri Historiografi Kolonial

Dalam historiografi kolonial memiliki beberapa karakteristik yang membedakan dengan historiografi yang lainnya. Ini bisa dilihat dari ciri cirinya yaitu sebagai berikut:

  1. Bersifat mitologis.
  2. Mengangung-agungkan peran orang-orang Belanda, semua peristiwa dilihat dari sudut pandang bangsa colonial.
  3. Mengabaikan sumber local
  4. Bersifat diksriminatif
  5. Bersifat Eropasentris, yaitu menceritakan aktivitas bangsa-bangsa Eropa-Belanda di Hindia-Belanda.
  6. Meninggikan kehebatan bangsa k20olonial dengan tujuan melemahkan semangat perjuangan rakyat Indonesia

Contoh Historiografi Kolonial

  1. Beknopt Leerboek Gerschiedenis van Nederlandsch Oos Indie Karya A.J.Eijkman dan F.W. Stapel,
  2. Schets eener Economische Geschiedenis van Bederlands-Indie karya G.Gonggrijp,
  3. Geschiedenis ban den Indischen Archipel karya B.H.M. Vlekke,
  4. Geschiedenis van Indonesie karya H.J. de Graaf, dan
  5. History of Java (1817) karya Thomas S. Raffles.

Historiografi Nasional

Historiografi Nasional dimulai saat dinyatakannya Indonesia telah merdeka dari penjajahan, yaitu pada tahun 1945. Sejak itu sejarawan mulai menulis sejarah Indonesia. Peristiwa-peristiwa penting yang dialami Indonesia setelah merdeka pun juga ditulis. Seperti proklamasi kemerdekaan Indonesia dan pembentukan pemerintahan Republik Indonesia.

Kejadian-kejadian sekitar proklamasi kemerdekaan Indonesia yang meliputi sebab-sebab serta akibatnya bagi bangsa ini merupakan sorotan utama para penulis sejarah.

Syarat Penulisan Historiografi Nasional

Dalam historiografi nasional seorang sejarawan harus memenuhi syarat-syarat penyusunan jika ingin menulis sejarah nasional. Ada empat persyaratan untuk menulisnya yaitu:

  1. Keyakinan nasional, seorang sejarawan dalam menulis sejarah harus memiliki rasa nasionalisme yang besar, sehingga ada rasa bangga terhadap negara sendiri.
  2. Babakan waktu, menunjukkan perkembangan jiwa kebangsaan yang memuncak dalam perjuangan mewujudkan cita-cita kehidupan kebangsaan yang bebas, adil dan makmur.
  3. Norma-norma penguji fakta, fakta-fakta yang di gunakan dalam menulis sejarah harus sesuai dengan perkembangan ke arah sifat keindonesiaan dan tidak semata-mata menggambarkan sifat kedaerahan.
  4. Cara penyusunan dan penafsiran fakta, dalam menyusun menafsirkan fakta, seorang sejarawan memperhatikan obyek lebih detail supaya tidak ada penafsiran yang salah.

Dengan adanya syarat dan karakteristik dari historiografi nasional, maka lebih memudahkan penulis dan pembaca sejarah untuk memahami sejarah nasional.

Contoh Historiografi Nasional

Adapun sejarawan yang menulis sejarah nasional antara lain,

  1. Editor Sarotono Kartodirjo dengan judul Sejarah Perlawanan-Perlawanan terhadap Kolonialisme dan Imperealisme, Sejarah Nasional Jilid I sampai VI.
  2. Kuntowijoyo dengan judul Perubahan Sosial Dalam Masyarakat Agraris Madura 1850-1940.
  3. Moh Ali dengan judul Peranan Bangsa Indonesia Dalam Sejarah Asia Tenggara.
  4. H Nasution juga menulis sejarah nasional dengan judul Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid I sampai XI.

Dengan melihat banyaknya sejarawan yang menulis mengenai sejarah nasional maka karya-karya yang ditulisnya dapat memberi pengetahuan masyarakat dan semakin mencintai negeri sendiri.

Historiografi Modern

Historiografi modern ada setelah historiografi nasional, sekitar tahun 1957 yang dianggap sebagai titik tolak kesadaran sejarah baru. Diresmikannya pada waktu terselenggaranya Seminar Sejarah Nasional Indonesia yang pertama di Yogyakarta.

Historiografi modern muncul akibat tuntutan ketepatan teknik untuk mendapatkan fakta-fakta sejarah. Fakta sejarah didapat melalui penetapan metode penelitian, memakai ilmu-ilmu bantu, adanya teknik pengarsipan, dan rekonstruksi melalui sejarah lisan.

Masa ini dimulai dengan munculnya studi sejarah kritis, yang menggunakan prinsip-prinsip metode penelitian sejarah.

Menurut Kuntowijoyo historiografi Modern penting dalam penulisan sejarah di Indonesia. Karena Sejak Indonesia merdeka pemikiran kesejarahan lebih didominasi oleh pemikiran dekolonisasi dan ilmu-ilmu sosial.

Bagi Kuntowijoyo, menulis dan merekonstruksi masa lalu digunakan untuk menjelaskan masa kini dan merancang masa depan. Dalam historiografi modern, lebih mengedepankan metode dan teori sejarah. Jika metode dan teori sejarah tidak dipergunakan maka akan menjadi seperti historiografi tradisional.

Metode dan teori masih belum dipergunakan dengan baik. Unsur mitos pun di tiadakan karena lebih menonjolkan pada fakta yang ada. Fakta memiliki peranan penting untuk mengungkap suatu peristiwa. Penerbitan arsip nasional yang pun juga cukup membantu untuk menulis sejarah.

Historiografi modern tentunya berkembang sesuai dengan zaman. Historiografi masa kini sudah semakin objektif dan kritis terhadap satu peristiwa sejarah. Adapun ciri-cirinya adalah:

  1. Bersifat metodologis: sejarawan diwajibkan menggunakan kaidah-kaidah ilmiah.
  2. Bersifat kritis historis: artinya dalam penelitian sejarah menggunakan pendekatan multidimensional.
  3. Sebagai kritik terhadap historiografi nasional: lahir sebagai kritik terhadap historiografi nasional yang dianggap memiliki kecenderungan menghilangkan unsur asing dalam proses pembentukan ke-Indonesiaan.
  4. Munculnya peran-peran rakyat kecil

Kelebihan dan Kekurangan Historiografi Modern

Meskipun demikian, historiografi modern tidak lepas dari berbagai kelebihan dan kekurangannya yaitu:

Kelebihan

Kekurangan

Mengubah pandangan religiomagis dan kosmologis menjadi pandangan yang bersifat empiris-ilmiah

Belum mampu menjelaskan sejarah secara optimal

Menggunakan penulisan sejarah kritis

Cenderung kurang fleksibel sebab terlalu terpaku pada metode ilmiah

Pandangan etnosentrisme diganti dengan pandangan Indonesia sentris

Belum tentu bertujuan untuk meningkatkan rasa nasionalisme, terkadang hanya terfokus pada tujuan akademis

Menggunakan dinamika masyarakat Indonesia dari berbagai aspek kehidupan

 

Menggunakan pendekatan multidimensional

 

Advertisement
Continue Reading Below