11 Metode Rasulullah SAW dalam Pendidikan Islam di Era Madinah

Advertisement
Continue Reading Below
Dalam pelaksanaan pendidikan ini Rasulullah telah mempraktekkan berbagai metode yang mudah dipahami dan meninggalkan bekas yang mendalam dalam diri pengikutnya. Di antaranya yang terpenting adalah keteladanan beliau sendiri, yang menjadikan dirinya sebagai suri teladan bagi segenap pengikutnya. Selain itu ada beberapa metode pendidikan yang diterapkan oleh Rasulullah dalam mengembangkan dakwahnya di Madinah, yaitu metode hikmah dan mau’idah hasanah, metode tamsil dan metode praktis. 
Metode hikmah dan mauidah hasanah 
Metode hikmah adalah yang sangat sering diterapkan Rasulullah SAW. Metode hasanah disebutkan dalam al-Qur`an, pada surah an-Nahl, dimana Allah SWT dengan tegas memberikan sebuah pedoman yang jelas bahwa keberhasilan dakwah sangat ditentukan oleh keberhasilan pembawa pesan (da`i) dalam meyakinkan para pendengar atau tujuan dari seruannya. Untuk menimbulkan keyakinan itu maka yang penting dilakukan adalah menyampaiakan pesan secara bijaksana dan kemauan untuk mengadu argumentasi secara fair (Q.S An-Nahl: 125). 
Metode memotivasi bertanya 
Ketika Rasulullah di Madinah proses pendidikan sering dilakukan dengan cara memancing para sahabat untuk bertanya. Rasulullah menjelaskan sesuatu secara tersirat, sehingga para sahabat terdorong mengetahui secara tersurat dan terperinci. Dalam pendidikan moderen kegiatan guru untuk merangsang peserta didik untuk mengembangkan potensi kritisnya dalam meyikapi berbagai persoalan disebut metode Socrates. Metode sokrates adalah mendorong seseorang untuk bertanya secara mendalam sampai ditemukan jawabannya. 
Metode tes dan melempar pertanyaan 
Pada awalnya Rasul memberikan pertanyaan yang diajukan kepada Shabat, sahabat yang mengetahui jawaban kemudian memberikan jawaban, bila tidak ada yang mengetahuinya maka mereka mengembalikannya kepada Rasulullah. Tujuan dari hal ini adalah untuk lebih menguatkan pengetahuan keislaman dalam diri shahabat. 
Metode penyegaran 
Setelah melalui serangkaian aktivitas belajar, maka tidaklah merupakan hal yang aneh bila timbul kejenuhan-kejenuhan. Untuk menghindari hal tersebut, sejak awal Rasulullah SAW memberikan antisipasi dengan memberikan peluang kepada para shahabatnya untuk mengambil masa jeda beristirahat dari aktivitas pembelajaran dari Rasulullah SAW. 
Metode mengenali kapasitas intelekual dan dialek 
Rasulullah SAW, adalah seorang yang sangat fasih dalam berbahasa, dan mengetahui betul kemampuan yang dimiliki seseorang. Dalam hal ini metode yang dapat diambil adalah perlunya pengetahuan dasar mengenai siapakah yang menjadi peserta didik yang akan menerima pengajaran. Hal ini bertujuan untuk dapat menemukan pendekatan yang lebih tepat sehingga memberikan manfaat yang maksimal. 
Metode mengalihkan realitas indrawi kepada realitas kejiwaan 
Metode ini adalah kemampuan untuk menangkap makna dibalik peristiwa yang terjadi. Misalnya terjadi suatu peristiwa yang sangat umum kemudian Rasulullah menarik makna yang ada dibalik kenyataan tersebut dan menjelaskannya kepada sahabat-sahabatnya. 
Metode peragaan 
Berkenaan dengan pengetahuan ibadah praktis, seperti thaharah, sholat, dan ibadah haji, Rasulullah selalu memperagakan secara langsung kepada para sahabat. Setiap ada wahyu yang mewajibkan melakukan sesuatu, seperti halnya perintah melakukan sholat, Rasulullah menyuruh para sahabatsahabatnya untuk menyaksikan hai’ah atau prilaku salat yang benar. Setelah selesai memperagakan sholat, kemudian, Rasulullah menyuruh para shabatnya melakukan ibadah sholat secara baik dan benar. 
Metode dengan ungkapan bahasa kiasan 
Metode ini banyak dipakai Rasul ketika harus menjelaskan persoalan-persoalan yang berkaiatan dengan hal-hal yang sangat sensitif, misalnya berkenaan dengan masalah hubungan suami istri. Rasulullah tidak menggunakan bahasa yang temperamental, tetapi hanya menjelaskan hal tersebut dengan menggunakan bahasa kinayah. Ini misalnya dapat kita lihat dalam hadits beliau yang menyatakan bahwa “Aku akan menjamin seseorang untuk masuk surga, apabila ia mampu menjaga antara kedua bibir dan apa yang terdapat di antara kedua kakinya”. Maksud dari kedua kaki pada teks hadis ini adalah farj (kem*luan). 
Metode gradual 
Manusia adalah makhluk yang mempunyai keterbatasan-keterbatasan. Dan oleh karenanya diperlukan tahapan-tahapan dalam memahami sesuatu. Prinsip gradualitas ini tidak hanya dapat dilihat dalam apa yang diterapkan oleh Rasulullah SAW, tetapi juga pada ketentuan-ketentuan penetapan hukum yang terdapat dalam alQur`an. Pada tahap awal, Rasulullah hanya memperingatkan sahabat-sahababnya akan bahaya dari minuman khamr dan perbuatan judi (maisr). Kemudian pada tahap kedua, Rasulullah melarang meminum khamr ketika akan melaksanakan sholat. Selanjutnya, setelah para sahabat mengetahui bahaya dari khamr dan maisir dan sudah terbiasa meninggalkannya, kemudian Rasulullah memerintahkan kepada para sahabatnya untuk menjauhi tradisi meminum khamr dan aktivitas maisr. 
Metode kisah 
Dalam berbagai riwayat ditemukan banyak sekali kisah-kisah yang disampaikan Rasulullah SAW. Baik mengenai kisah orang-orang yang mendapat keridhaan Allah, maupun orang yang mendapat kemurkaan Allah karena keingkaran dan pembangkangannya kepada Allah Swt. Efektifitas metode kisah memang sudah diakui sejak lama.
Metode Keteladanan 
Sejarawan pada umumnya sepakat bahwa salah satu rahasia dibalik kesuksesan Rasulullah adalah kemampuan beliau untuk menyatukan ucapan dengan perbuatan. Dalam berbagai kesempatan dan merumuskan peraturan, maka pelaksana pertama adalah Rasul sendiri, demikian juga halnya dengan larangan, beliaulah yang pertama sekali yang meninggalkannya. 
Dengan demikian dapat diketahui, bahwa strategi dakwah atau pendidikan Rasulullah di Madinah selama 10 tahun adalah mengacu pada tata cara berdakwah sebagaimana yang tercantum dalam AlQur’an surat An-Nahl ayat 125, yakni dengan hikmah (memberikan pengajaran dengan sistematis), Mau’idah hasanah (memberi contoh/suritauladan dengan baik), dan mujadilah (berdiskusi dengan argumentasi yang logis dan kritis). Rasulullah selalu menempatkan diri sebagai teladan, Membiasakan bermusyawarah dalam menyelesaikan masalah, Menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan, serta selalu menganjurkan untuk bersikap peduli kepada sesama.
Advertisement
Continue Reading Below