Ciri-ciri Berpikir Tingkat (HOTS) yang sesuai dengan TIMSS dan PISA

Advertisement
Continue Reading Below

Keterampilan-keterampialn yang termuat dalam TIMSS dan PISA disebut sebagai higher order thinking skill (HOTS) (Brookhart, 2010). Resnick (1992) mengemukakan ciri-ciri berpikir tingkat tinggi yaitu bersifat non-algorithmic, cenderung kompleks, menghasilkan banyak solusi, melibatkan nuanced judgement, menerapkan multiple-criterion, melibatkan ketidakpastian, melibatkan kemandirian dalam proses berpikir, melibatkan imposing meaning, dan penyelesaian masalah dengan penuh usaha. HOTS juga ditandai dengan adanya pemikiran yang melibatkan analysis, synthesis, and evaluation dalam taksonomi Bloom (Liu, 2010; Fisher, 2010), critical and creative thinking (Krulik & Rudnick, 1999). 

Sedangkan dalam taksonomi Bloom yang direvisi, ciri HOTS ditandai dengan pemikiran yang melibatkan analisis, sintesis, dan mencipta (Anderson & Krathwohl, 2001). Dengan demikian, dalam pembelajaran kegiatan berpikir tingkat tinggi dengan ciri-ciri tersebut harus dilatihkan hingga siswa menguasainya. 

Di Indonesia, pembelajaran berorientasi HOTS mulai diterapkan seiring diterapkannya Kurikulum 2013. Kurikulum 2013, selain mengedepankan pentingnya memfasilitasi keterampilan berpikir tingkat tinggi juga menginginkan agar pembelajaran ikut mengembangkan nilai-nilai karakter. Hal ini bertujuan agar terjadi keseimbangan antara kemampuan intelektual dan karakter, sebagaimana tertuang dalam tujuan pendidikan nasional dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003. Dalam pendidikan karakter pentingnya menekankan tiga komponen karakter yang saling berhubungan yaitu moral knowing, moral feeling dan moral action (Lickona, 1991). 

Advertisement
Continue Reading Below

Dalam rangka lebih memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter, dalam Kurikulum 2013 telah teridentifikasi 18 nilai yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional, yaitu: jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab, dan religius (Kemendiknas, 2011). 

Adapun strategi yang dapat digunakan untuk mengembangkan pendidikan karakter meliputi keteladanan, intervensi, pembiasaan yang dilakukan secara konsisten, dan penguatan (Zuchdi, Prasetya, Masruri, 2012). Untuk mendukung keterlaksanaan strategi tersebut dalam pembelajaran, maka diperlukan suatu model pembelajaran yang memuat pendidikan karakter sekaligus berorientasi pada HOTS. Salah satu model pembelajaran yang direkomendasikan dalam Kurikulum 2013 yang dapat digunakan untuk meningkatkan HOTS yaitu problem based learning (PBL) (Weissinger, 2004; Arends, 2012). 

Pembelajaran berbasis masalah merupakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa yang mengorganisasikan kurikulum dan pembelajaran dalam situasi yang tidak terstruktur dan memberikan masalah dunia nyata (Mergendoller, Maxwell & Belissimo, 2006; Massa, 2008; Arends & Kilcher, 2010). Karakteristik masalah yang diajukan dalam PBL berupa masalah autentik yang dijadikan tonggak untuk melakukan investigasi dan penemuan (Arends, 2012). 

Selain itu dalam praktiknya, penerapan PBL menuntut agar siswa berkolaborasi dan mengatur pembagian tugas antar siswa (Arends & Kilcher, 2010). Jika dikaitkan dengan pendidikan karakter, adanya investigasi dan penemuan dalam PBL dapat memfasilitasi siswa untuk meningkatkan kerja keras, ketekunan, kedisiplinan, dan kepercayaan diri, sedangkan dengan adanya kolaborasi dan pengaturan pembagian tugas antar siswa dapat melatih siswa untuk peduli, bekerja sama, bertanggung jawab, dan memiliki toleransi antar sesama. 

Dengan demikian implementasi PBL dapat meningkatkan HOTS sekaligus karakter siswa. Secara operasional PBL dilaksanakan melalui sintaks: (1) mengorientasi siswa pada masalah; (2) mengorganisasi siswa untuk belajar; (3) membimbing penyelidikan yang dilakukan secara individu maupun kelompok; (4) mengembangkan dan menyajikan penyelesaian masalah; dan (5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah (Arends, 2012). 

Senada dengan pendapat tersebut Jonassen (2011) mengemukakan bahwa sintaks PBL meliputi “problem focused, student-centered, self-directed, and self reflective”. Mencermati kedua pendapat ahli tersebut dapat dipahami bahwa implementasi PBL menuntut adanya berbagai aktivitas berpikir melalui penyajian masalah. McMahon (2007) melakukan penelitian dengan melaksanakan pembelajaran yang melibatkan siswa untuk mengikuti berbagai aktivitas berpikir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan berpikir siswa meningkat ditinjau dari keterampilan berpikir kritis dan kreatif. Selain itu, pembelajaran berbasis masalah akan memberikan pengetahuan yang lebih lama kepada siswa dibandingkan dengan pembelajaran tradisional, meskipun yang dipelajari lebih sedikit (Udent & Beamout, 2006; Fatade, Mogari, Arigbabu, 2013; Ajai, Imoko, O’kwu, 2013). 

Senada dengan hasil tersebut, problem-based learning menjadi lebih mudah dilaksanakan dalam pembelaharan matematika (Fatokun & Fatokun, 2013; Udi & Cheng, 2015), dan meningkatkan motivasi belajar siswa (Etherington, 2011), meningkatkan prestasi dan sikap siswa dalam pemahaman konsep dan mengurangi miskonsepsi (Akinolu & Tandogan, 2007), meningkatkan pemahaman dan keterampilan siswa untuk diterapkan di kehidupan nyata (Padmavathy & Mareesh, 2013). 

Berbagai kajian menunjukkan bahwa PBL dipercaya dapat meningkatkan HOTS siswa. Bahkan dengan mencermati karakteristiknya, PBL juga dapat digunakan untuk memfasilitasi pendidikan karakter. Hal inilah yang salah satunya melatarbelakangi dilakukannya penelitian pengembangan perangkat pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan HOTS dan karakter siswa, sebagaimana dilakukan oleh Musfiqi (2015). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran yang dihasilkan memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif. Namun demikian, efektivitas dari pemanfaatan perangkat tersebut dalam skala yang lebih luas masih perlu dibuktikan. Terkait dengan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan efektivitas pemanfaatan perangkat pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan HOTS dan karakteristik siswa.