Naskah Drama Perang Bubat

Pada tahun 1357, Prabu Hayam Wuruk, raja termahsyur sepanjang sejarah Majapahit telah berusia 23 tahun dan telah memasuki usia ideal untuk memiliki pasangan hidup. Apalagi Prabu Hayam Wuruk sangat tampan, berbudi luhur, serta telah mencapai tingkatan yang begitu tinggi dalam usianya yang masih begitu muda. Namun hingga kini, belum ada satu-pun gadis yang menarik hati Sang Prabu, baik dari golongan bangsawan maupun golongan pribumi. Padahal, pelukis kerajaan sudah bepergian ke berbagai daerah di nusantara untuk mencari sosok wanita yang kiranya memenuhi kriteria untuk menjadi permaisuri Sang Prabu. Ibunda Sang Prabu, Tribhuwanatunggadewi memutuskan untuk bersikap tegas pada keadaan yang sedang terjadi.

Naskah Drama Perang Bubat

Suatu pagi di pendopo istana Majapahit…

Tribhuwana: Anakku, usiamu sudah menginjak angka 23. Bukankah sekarang adalah waktu yang tepat ?
Hayam Wuruk: Waktu yang tepat untuk apa, wahai ibunda ?
Ibu Suri Tribhuwana menjawab seraya tersenyum.
Tribhuwana: Tentu saja untuk mencari permaisuri untukmu. Seorang raja sudah tentu membutuhkan seorang pendamping. Terlebih lagi sebuah kerajaan pasti membutuhkan penerus tahta.
Hayam Wuruk: Untuk seorang pendamping, Paman Gajah Mada sudah lebih dari cukup. Lihatlah, Majapahit begitu besar karena kerja keras Paman Mahapatih. Akan tetapi ibunda, aku kerap kali merasa kesepian dan sedih.
Tribhuwana: Oleh karena itu anakku, ibu telah memanggil pelukis istana kita. Sungging Prabangkara !!!
Seru Tribhuwana memanggil Sungging Prabangkara, juru gambar istana yang baru saja pulang dari berkeliling nusantara, mencari sosok gadis impian untuk dilukis.
Sungging Prabangkara mendekat pada Sri Baginda dengan menyembah.
Sungging Prabangkara: Paduka, hamba telah berusaha untuk mendapat gambar gadis yang kiranya Paduka berkenan untuk menjadikannya sebagai seorang permaisuri.
Hayam Wuruk: Tak usah bersusah-susah seperti itu, Paman. Kalaupun jodoh pun nanti juga akan datang dengan sendirinya. Boleh aku lihat hasil lukisan Paman ?
Sungging Prabangkara: Tentu-tentu, Tuanku. Ini hasil karya hamba, lihatlah.
Prabu Hayam Wuruk mengamati lukisan-lukisan yang dibawa oleh Sungging Prabangkara secara satu persatu. Gadis-gadis yang ada dalam lukisan itu cantiknya bukan main. Ada yang berasal dari Mataram, ada pula dari Melayu, serta dari Dompo. Seusai melihat lukisan-lukisan tadi, Hayam Wuruk bungkam. Namun ia segera tersenyum.
Hayam Wuruk: Paman, aku ingin minta maaf. Sejujurnya, tak ada satupun gadis dalam lukisan paman yang menarik hatiku. Tapi terhadap apa yang telah Paman lakukan, aku mengucapkan banyak terimakasih.
Sungging Prabangkara: Tak bisa begitu, Paduka. Hamba akan berkeliling nusantara lagi, mencari gadis cantik untuk hamba lukis.
Tiba-tiba Tribhuwanatunggadewi menyela pembicaraan. Sepertinya ia punya rencana sendiri.
Tribhuwana: Tak perlu repot-repot, pergilah ke Sunda Galuh. Yang aku dengar, putri raja Sunda Galuh sangat cantik. Anakku tak mungkin tidak tertarik. Sungging Prabangkara, berangkatlah ke Sunda Galuh siang ini juga. Akan kusertakan Gajah Enggon dan Patih Madu untuk mengawalmu.
Sungging Prabangkara: Baik, Ibu Suri. Hamba akan berangkat siang ini juga.
Tribhuwana: Tolong cari Gajah Mada, aku perlu berbicara dengannya.
Sungging Prabangkara: Siap !
Sungging Prabangkara meninggalkan pendopo untuk berkemas pergi ke Sunda Galuh. Prabu Hayam Wuruk hanya termangu sembari geleng-geleng kepala.
Sementara itu Mahapatih Gajah Mada yang diminta untuk bertemu dengan Tribhuwanatunggadewi melakukan pertemuan di istana Ibu Suri. Gajah Mada datang dan menyembah.
Gajah Mada: Hamba menghaturkan sembah, Tuan Putri. Ada apa Ibu Suri memanggil hamba kemari ?
Tribhuwana: Ada ingin minta pendapatmu, Kakang Mahapatih.
Gajah Mada: Utarakan saja.
Tribhuwana: Gajah Mada, aku telah memerintahkan Patih Madu dan Gajah Enggon untuk mengawal kepergian Sungging Prabangkara ke Sunda Galuh siang ini. Bagaimana pendapatmu ?
Gajah Mada: Hamba tidak mengerti apa maksud Tuan Putri, mohon Tuan Putri jelaskan dengan lebih rinci lagi.
Tribhuwana: Begini, Sri Baginda Hayam Wuruk anakku, rencananya akan kunikahkan dengan Putri Raja Sunda Galuh dan akan dijadikan Permaisuri. Yang kudengar, ia sangat cantik. Aku ingin tahu bagaimana sikapmu.
Gajah Mada: Tuan Putri, sejujurnya hamba kurang setuju apabila putri Sunda Galuh itu akan dijadikan permaisuri. Sunda Galuh adalah satu-satunya wilayah yang belum mau menyatu dengan Majapahit. Padahal dari Sumatera hingga Maluku di timur, semuanya telah mengakui kebesaran Majapahit. Hamba telah memberikan waktu pada Sunda Galuh untuk memutuskan. Menyatu dengan Majapahit, atau hamba sendiri yang akan mengirimkan pasukan untuk menggilas mereka.
Tribhuwanatunggadewi cemas.
Tribhuwana: Gajah Mada, aku minta kau untuk tidak gegabah.
Gajah Mada: Hamba telah memberikan pendapat. Maaf tuan putri, hamba tidak punya banyak waktu. Hamba undur diri.
Mendengar jawaban Gajah Mada, Tribhuwanatunggadewi cemas. Ia tak ingin pertumpahan darah terjadi. Sementara itu, utusan Majapahit yang akan berangkat ke Sunda Galuh baru saja berangkat.
Nun jauh di barat, di Sunda Galuh, seorang emban istana sedang termangu di pinggiran danau. Emban itu termangu karena melihat sosok seorang laki-laki muda yang tampak sedang melukis sesosok wanita. Karena penasaran, sang emban pun mendekat. Emban itu bernama Pritaya.
Pritaya: Hei tuan, apa yang sedang kau lukis ?
Saniscara: Apa kau tidak kenal dengan sosok yang sedang ku lukis ini ? Beliau adalah gadis paling cantik di dunia ini. Dan aku sangat mencintainya.
Pritaya sangat kaget. Ia sudah tentu mengenal dengan baik siapa sosok yang ada dalam lukisan itu.
Pritaya: Kau amat kurangajar, akan aku adukan kau pada istana ! Kau akan dihukum karena lancang melukis rupa Sekar Kedaton Sunda Galuh tanpa izin!
Saniscara: Aku tidak takut.
Pritaya dengan bergegas segera kembali ke istana untuk melaporkan kejadian tadi pada Dyah Pitaloka.
Pritaya: Tuan Putri, ada seorang pria yang dengan lancang melukis sosok Tuan Putri di tepi danau !
Dyah Pitaloka: Kurasa tak masalah. Tapi aku sangat penasaran dengan lukisannya. Pritaya, tolong pastikan gerbang istana aman. Aku akan keluar dengan menyamar.
Pritaya: Baik Tuan Putri, tapi aku minta agar Tuan Putri berhati-hati. Ia orang tak dikenal. Mungkin saja dia bukan orang baik.
Dyah Pitaloka mengangguk. Sosoknya yang sangat anggun, membuat kharismanya tak terkalahkan oleh siapapun. Wajahnya amat jelita, bagai jelmaan bidadari.
Setelah berhasil menyusup keluar istana, Dyah Pitaloka pun tiba di tepian danau dan bertemu sang pelukis.
Dyah Pitaloka: Mana pelukis itu ?
Namun tiba-tiba ia terkejut…..
Saniscara: Dyah Pitaloka, aku mencintaimu !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Secara mengejutkan, sang pelukis meluapkan emosinya. Dyah Pitaloka yang kaget, kemudian terdiam dan terhenyak. Ada sesuatu yang tak biasa. Dadanya mengombak, matanya berbinar. Benar-benar perasaan yang aneh dan asing. Dyah Pitaloka memutuskan untuk mendekat.
Dyah Pitaloka: Kakang, ucapkan itu sekali lagi.
Saniscara yang terkejut minta ampun lantas salah tingkah dan berkeringat. Dyah Pitaloka mengulangi ucapannya dengan lebih tegas. Namun kali ini sambil memegang tangan Saniscara.
Dyah Pitaloka: Kakang, ucapkan yang tadi itu sekali lagi. Kakang, dengarkan aku !
Saniscara: Tapi, tuan putri. Hamba ini apa, hamba cuma rakyat biasa. Hamba tak pantas untuk sekedar berbicara pada Tuan Putri. Apalagi menyentuh tangan Tuan Putri seperti ini.
Dyah Pitaloka: Tapi aku suka, Kakang. Aku sangat suka ketika Kakang mengungkapkannya. Kakang sangat manis, jadilah kekasihku.
Saniscara: Tuan Putri, memang benar hamba mencintai Tuan Putri. Tapi hamba rasa hubungan kita mestinya hanya sebatas ini, sebatas raden dan jelata. Hamba tak ingin mendapat cemoohan dari pihak istana.
Dyah Pitaloka: Kalau begitu, tak bisakah kita menjadi teman ? Ayo, lakukan hal yang menyenangkan hati.
Mari kita bercengkerama di tepian danau yang indah ini. Kakang, janganlah mengelak lagi. Terima ajakanku. Kumohon, Kakang.
Saniscara: Sebatas teman ? Baiklah Tuan Putri, hamba akan melakukan apa yang diminta Dyah Pitaloka Citraresmi.
Dyah Pitaloka: Panggil saja aku Pitaloka. Kakang, kau belum menyebutkan namamu.
Saniscara: Namaku Saniscara…
Saniscara dan Dyah Pitaloka bersenang-senang sepuasnya. Kedua insan yang sedang gila asmara itu meluapkan hasratnya masing-masing. Tak ada batasan di antara mereka, tak ada jelata dengan bangsawan. Sampai akhirnya mentari terbenam..
Dyah Pitaloka: Kakang Saniscara, langit mulai gelap. Sebaiknya kita berpisah. Ayahku akan curiga jika menemukan kamarku di istana ternyata tak berpenghuni.
Saniscara: Bawalah lukisanku, Pitaloka. Agar kau senantiasa bisa mengingatku sepanjang waktu.
Dyah Pitaloka: Dengan senang hati aku akan membawa lukisan ini, Kakang. Tapi kakang harus berjanji bahwa ini bukan pertemuan kita yang terakhir.
Saniscara: Aku berjanji, Pitaloka. Sampai jumpa, aku mencintaimu.
Dyah Pitaloka: Aku juga mencintaimu…
Sepulang dari tepi danau, Dyah Pitaloka bagai orang kesurupan. Mulutnya terus menerus tersenyum. Matanya berbinar. Dadanya tak berhenti mengombak. Rupanya putri Sunda Galuh benar-benar sedang kasmaran hebat.
Pritaya: Bagaimana pertemuannya, Tuan Putri ?
Dyah Pitaloka: Coba tebak, Pritaya. Ia benar-benar pria menakjubkan. Ia baik. Lihatlah, aku jadi begini karena dia.
Pritaya: Tuan Putri jadi seperti orang gila, jejingkrakan kesana kemari sambil tertawa-tawa. Apa yang sebenarnya terjadi pada Tuan Putri ?
Dyah Pitaloka: Ini benar-benar pertamakalinya ada pria yang seperti itu. Namanya Saniscara. Dia sungguh membuatku jatuh cinta.
Pritaya: Apa tuan putri tidak takut ketahuan ayahanda prabu ?
Dyah Pitaloka: Peduli setan. Ayahku mana mengerti masalah cinta ?
Pritaya: Baiklah Tuan Putri, hamba agar meminta agar Tuan Putri Pitaloka berhati-hati. Kita belum mengenal dengan baik siapa Saniscara itu. Hamba takut jika ia ternyata mempunyai niat buruk terhadap Tuan Putri.
Dyah Pitaloka: Kau tahu apa, Pritaya ? Sudah sana, jangan campuri urusanku.
Pritaya dengan jengkel keluar dari kamar Dyah Pitaloka sambil menggerutu.
Pritaya: Tuan Putri Pitaloka benar-benar sudah tak waras.
Malam berlalu. Rombongan Majapahit yang membawa titah untuk mengambil gambar Dyah Pitaloka tiba di Sunda Galuh pada pagi hari. Keadaan alam Sunda Galuh yang sejuk membuat utusan Majapahit betah singgah disana. Apalagi ditambah dengan sambutan orang-orang Sunda yang ramah. Rombongan Majapahit yang dipimpin Patih Madu diminta untuk menunggu sebentar di pendopo istana sambil menunggu raja Sunda Galuh, Maharaja Linggabuana.
Gajah Enggon: Jadi seperti ini rupanya wujud negeri Sunda Galuh ? Sungguh indah sekali.
Sungging Prabangkara: Benar, bahkan aku sampai lupa dengan tujuanku sebenarnya kemari. Seperti liburan saja.
Patih Madu: Benar, tak kalah dengan keindahan gunung Meru di timur..
Tak lama menunggu, Maharaja Linggabuana tiba dengan didampingi Permaisuri serta Mahapatih Suradipati.
Rombongan dari Majapahit memberikan penghormatan.
Patih Madu: Hormat kami, Paduka.
Maharaja Linggabuana mengangguk.
Maharaja Linggabuana: Silahkan duduk, kisanak. Kalian jauh-jauh datang dari Majapahit tentu membawa perlu, bukan ?
Patih Madu: Benar sekali yang mulia, kami diberi titah oleh Sri Baginda Hayam Wuruk untuk melukis Sekar Kedaton Sunda Galuh, Dyah Pitaloka. Kebetulan junjungan kami sedang mencari permaisuri.
Raja dan permaisuri saling lirik. Mereka Nampak agak terkejut.
Maharaja Linggabuana: O, tentu, tentu. Boleh, silahkan saja. Tak ada salahnya dicoba. Benar kan, istriku ?
Dewi Lara Linsing: Iya, coba saja dulu. Mungkin saja nanti akan baik kedepannya. Kami sama sekali tidak melarang.
Patih Madu: Terimakasih yang sebesar-besarnya atas segala keterbukaan Sunda Galuh terhadap kami.
Tak lama, Dyah Pitaloka muncul. Parasnya yang demikian ayu membuat rombongan Majapahit terpana. Rasanya tak ada gadis lain yang dapat menandingi rupa Sekar Kedaton Sunda Galuh.
Sungging Prabangkara: Yang mulia, putri anda sungguh cantik. Hamba tidak yakin dapat menggambarnya dengan baik. Hamba takut lukisan hamba akan mengecewakan Prabu Hayam Wuruk.
Dyah Pitaloka: Tak perlu susah-susah, Paman. Aku punya satu gambar diriku di kamar. Paman boleh meminjamnya. Tapi mohon Paman kembalikan secepatnya. Ngomong-ngomong, lukisan itu akan dipakai untuk apa ?
Patih Madu: Sri Baginda Hayam Wuruk dari Majapahit berniat meminangmu sebagai permaisuri. Jika lukisan itu menarik hati Sang Prabu, secepatnya pihak Majapahit akan datang melamar kemari.
Jantung Dyah Pitaloka seketika berdegup amat cepat. Bagaimana bisa ia akan dinikahkan dengan orang yang belum pernah ia lihat sendiri wujud dan rupanya. Selain itu, ia sendiri tengah begitu kasmaran pada Saniscara.
Maharaja Linggabuana: Bagaimana, Pitaloka ?
Dyah Pitaloka: Iya ayah, akan kuambil sebentar lukisan itu.
Dyah Pitaloka bergegas menuju kamar pribadinya untuk mengambil lukisan hasil karya Saniscara. Ia pun segera kembali ke ruang pertemuan.
Dyah Pitaloka: Ini lukisannya Paman Patih, bawalah ke Majapahit.
Semua orang yang hadir di ruangan itu terhenyak. Terlebih Maharaja Linggabuana. Sang Prabu sama sekali tak mengetahui sejak kapan Dyah Pitaloka memiliki lukisan seindah itu. Rombongan Majapahit apalagi.
Patih Madu: Wow, betapa bagusnya lukisan ini.
Sungging Prabangkara: Lukisanku tak ada apa-apanya !
Gajah Enggon: Apakah di Sunda Galuh memang banyak terdapat juru gambar sehebat itu ?
Maharaja Linggabuana: Jujur saja, aku tak tahu sejak kapan ada juru gambar yang mampu melukis putriku dengan cara luar biasa. Pitaloka, bisakah kau meminta pelukis itu untuk datang ke istana ? Aku minta agar ia mampu melukis keluarga istana. Supaya wajahku dapat dilihat oleh keturunanku nanti.
Dyah Pitaloka senang bukan kepalang.
Dyah Pitaloka: Tentu saja, ayah ! Pelukis itu secepatnya akan kuundang kemari !
Dewi Lara Linsing terheran-heran melihat sikap anaknya. Rombongan Majapahit bergegas pamit untuk pulang.
Patih Madu: Paduka, Permaisuri, Mahapatih, kami mohon pamit. Prabu Hayam Wuruk tak boleh menunggu untuk ini.
Maharaja Linggabuana: Hati-hatilah dijalan. Semoga Sang Prabu tidak merasa kecewa.
Rombongan Majapahit lekas menghaturkan sembah dan pulang. Sesampainya di Majapahit, lukisan itu langsung diberikan kepada Hayam Wuruk. Prabu Hayam Wuruk benar-benar merasakan sesuatu yang tak biasa. Ia terus memandangi lukisan itu sembari mengelus-elus seakan-akan gambarnya nyata. Kebetulan ibunda raja juga hadir di ruangan yang sama,
Hayam Wuruk: Paman Gajah Enggon, benarkah ini wajah Sekar Kedaton Sunda Galuh ?
Gajah Enggon: Betul, Tuanku. Wajah yang ada dalam lukisan itu adalah wajah Sekar Kedaton Sunda Galuh.
Hayam Wuruk: Baiklah kalau begitu, Paman. Aku minta wakilkan aku untuk melamarnya. Ibu, tolong umumkan ke seluruh istana agar segera menyiapkan pesta pernikahan untukku. Kurasa aku tak dapat menunggu lebih lama lagi.
Tribhuwana: Anakku, apakah kau sudah merasa yakin ?
Hayam Wuruk: Ibunda, aku tak pernah merasa seyakin ini.
Patih Madu: Baik Paduka, hamba akan segera kembali ke Sunda Galuh untuk melamar Sekar Kedaton.
Gajah Enggon tak langsung berangkat, ia terlebih dulu mengunjungi Mahapatih Gajah Mada di Kepatihan.
Gajah Enggon: Kau punya pesan yang akan dititipkan ?
Gajah Mada: Katakan pada Raja Sunda Galuh, Majapahit ingin mereka segera menyatu. Dengan damai atau perang. Pilihan ada di tangan mereka.
Gajah Enggon sedikit merasa heran, namun pesan itu tak ia bantah.
Gajah Enggon: Baik, Kakang Mahapatih.
Rombongan Majapahit kembali berangkat menuju Sunda Galuh. Kali ini, mereka membawa seserahan berupa berbagai macam barang dan makanan. Benar-benar akan menjadi sebuah pernikahan yang amat mewah. Sementara, Saniscara yang diundang datang ke istana akhirnya tiba. Namun karena lukisannya belum selesai, Maharaja Linggabuana memintanya untuk menginap. Dyah Pitaloka amat senang.
Sesampainya di Keraton Sunda Galuh, rombongan Majapahit disambut dengan amat meriah. Raja, Permaisuri, Mahapatih, serta Dyah Pitaloka hadir menemui mereka.
Patih Madu: Yang Mulia, kedatangan hamba kemari bermaksud untuk melamar Tuan Putri Dyah Pitaloka. Prabu Hayam Wuruk amat berkenan untuk menjadikan Sekar Kedaton Sunda Galuh sebagai permaisuri.
Maharaja Linggabuana dan istrinya tersenyum. Mereka amat bahagia karena tak lama lagi anak mereka akan membina rumah tangga, terlebih menjadi permaisuri Raja Majapahit.
Maharaja Linggabuana: Syukurlah apabila Prabu Hayam Wuruk berkehendak. Namun semuanya kembali pada Dyah Pitaloka, karena ialah yang akan menentukan. Bukan kami. Bagaimana, Pitaloka ?
Dyah Pitaloka: Ayah, tolong beri aku waktu berpikir.
Maharaja Linggabuana: Patih Madu, tolong beri waktu pada putriku. Nampaknya ia perlu mempertimbangkan semua ini.
Patih Madu: Sama sekali tidak masalah, Paduka. Tapi Gajah Enggon membawa pesan khusus untuk anda.
Gajah Enggon: Benar, Paduka. Pesan dari Mahapatih Gajah Mada.
Raja dan patihnya saling lirik.
Maharaja Linggabuana: Baik. Kau bisa sampaikan pesanmu.
Gajah Enggon: Terimakasih, Yang Mulia. Begini. Majapahit berharap agar Sunda Galuh segera menyatu dengan Majapahit. Atau jika Sunda Galuh tak menghendaki, Majapahit akan bersikap keras.
Maharaja Linggabuana menghela nafas.
Maharaja Linggabuana: Kami akan putuskan secepatnya.
Patih Suradipati: Betul, kami akan terlebih dulu meminta pendapat kepada segenap rakyat.
Raja dan Patih segera pindah ke ruangan lain untuk berbicara lebih lanjut dengan Gajah Enggon. Di pendopo, hanya tersisa Permaisuri dan Dyah Pitaloka.
Dewi Lara Linsing: Pitaloka, kenapa tidak kau terima saja lamaran itu ? Apalagi lamaran itu datang dari Prabu Hayam Wuruk, Raja Majapahit. Kau akan dijadikan permaisuri, derajatmu akan naik. Lagipula aku cemas bahwa penolakanmu terhadap lamaran Prabu Hayam Wuruk akan dijadikan alasan oleh Majapahit untuk menggunakan kekerasan dan menyerang negeri kita. 
Dyah Pitaloka: Aku sedang mempertimbangkan sesuatu, ibu.
Dewi Lara Linsing: Sesuatu apa ? Apa kau sedang memikirkan pria lain ?
Dalam hatinya, Dyah Pitaloka sangat ingin berkata jujur. Namun ia tak membayangkan apa yang akan terjadi apabila ia berkata yang sebenarnya. Apa yang akan terjadi pada dirinya, Hayam Wuruk, serta negaranya.
Dyah Pitaloka: Kelak ibu akan mengerti, namun tolonglah beri aku waktu.
Dewi Lara Linsing: Baik anakku, pikirkanlah baik-baik.
Malam harinya, Saniscara mengadakan pertemuan diam-diam dengan Dyah Pitaloka.
Dyah Pitaloka: Kakang, bagaimana ini. Rombongan Majapahit datang untuk melamarku. Aku akan menjadi istri Raja Majapahit yang bahkan aku belum pernah melihat rupanya. Kakang, tolong aku..
Saniscara: Pitaloka sayangku, Kakang sendiri juga tidak mengerti apa yang harus Kakang lakukan. Sebaiknya hubungan kita berakhir saja. Aku tak mau disalahkan oleh siapapun.
Dyah Pitaloka: Tapi aku hanya ingin menikah dengan Kakang. Kakang adalah kekasihku, aku sangat mencintai Kakang !
Saniscara: Pitaloka, aku juga cinta padamu. Tapi takdir mungkin akan berkata lain.
Namun tanpa disangka, sedari tadi Patih Suradipati memperhatikan gerak-gerik pasangan yang tengah dimabuk cinta itu. Ia segera memergoki
Patih Suradipati: Ketahuan kau ! Dasar pelukis kurangajar, beraninya kau berhubungan dengan Sekar Kedaton !
Saniscara: Aku mencintai Dyah Pitaloka dengan sepenuh hati. Aku tidak peduli dengan apapun yang ada di depanku !
Patih Suradipati: Dasar jelata tak tahu diri, mampus kau !!!
Patih Suradipati membunuh Saniscara di tempat dengan sekali pukul. Dyah Pitaloka menangis sesenggukan.
Dyah Pitaloka: Paman Mahapatih amat kejam ! Paman Mahapatih telah membunuh orang tidak berdosa ! Aku kecewa terhadap Paman !!!
Patih Suradipati:  Terserah ! Kau juga, beraninya melakukan hal menjijikkan seperti ini. Ikutlah kau besok ke Majapahit atau kuadukan semua ini kepada ayahmu !
Patih Suradipati segera memerintahkan orang untuk mengurus mayat Saniscara. Dyah Pitaloka yang sangat terpukul akhirnya memutuskan untuk menerima lamaran Prabu Hayam Wuruk, walau dalam hatinya masih terukir nama Saniscara. Pagi hari, Maharaja Linggabuana beserta Permaisuri mendatangi Dyah Pitaloka.
Maharaja Linggabuana: Bagaimana, Pitaloka ? Lamaran dari Majapahit akan kau terima atau kau tolak ?
Dyah Pitaloka: Aku akan terima lamaran itu, ayah.
Dewi Lara Linsing: Putriku sudah memutuskan, sore ini kita akan berangkat ke Majapahit.
Mereka bertiga berpelukan, dan sore itu pula. Rombongan berangkat menuju Majapahit.
Kapal rombongan Sunda Galuh menepi di pinggiran Sungai Brantas setelah melewati Surabaya. Sesampainya di Majapahit, rombongan Sunda Galuh memasuki areal lapangan Bubat. Lapangan Bubat adalah sebuah arena terbuka yang letaknya di utara pusat kota Majapahit. Waktu yang ditempuh untuk dapat mencapai pusat kota dari tempat itu kurang lebih selama tigapuluh menit dengan berkuda.

Karena di pinggir lapangan terdapat banyak pohon rimbun, Maharaja memutuskan untuk beristirahat di tempat itu.

Namun tanpa diduga, rombongan Sunda Galuh dihadang oleh pasukan pimpinan Gajah Mada.

Gajah Mada: Akhirnya datang juga !!!
Maharaja Linggabuana: Siapa kau dan apa maumu ?
Gajah Mada: Aku adalah Mahapatih Gajah Mada, aku ingin Sunda Galuh menyatakan takluk pada Majapahit. Jika tidak, kubunuh kalian semua !
Patih Suradipati: Hei tengik, kau sangat kurangajar. Kami tak takut mati !
Gajah Mada: SERAAAANGGG !!!
Pertempuran tak terhindarkan. Kekacauan terjadi. Peperangan berjalan secara berat sebelah karena terjadi bentrok yang tidak seimbang antara pasukan pengawal pengantin Sunda Galuh dan satu batalion prajurit Majapahit. Biarpun membawa persenjataan ala kadarnya karena memang tidak bersiap untuk berperang, orang-orang Sunda Galuh tetap melawan demi membela harga diri. Maharaja Linggabuana dan Patih Suradipati tewas akibat serangan itu. Permaisuri melakukan bunuh diri untuk menyusul kematian suaminya sekaligus menjaga agar kehormatannya tidak dapat dijamah oleh siapapun.

Namun dengan alasan yang tak jelas di sebuah sudut medan peperangan, Dyah Pitaloka tersenyum dengan mata yang terbuka lebar. Seakan-akan terhibur oleh pertumpahan darah dan gelimpangan mayat yang terbentang di depan mata.

Dyah Pitaloka: Takdir seperti menuntunku ke jalan yang sangat aku impikan. Biarkanlah aku mati! Biarkan aku menyusul kepergian Kakang Saniscara! Oh betapa malangnya dikau Sri Baginda Hayam Wuruk. Sebentar lagi kau akan meratap dan menyesal karena telah membuat hidupku menjadi penuh dengan penderitaan!

Setelah mengucap kalimat emosional tersebut, Sekar Kedaton segera membunuh dirinya sendiri dengan cara menusukkan sebilah keris tepat di jantungnya. Rasa nyeri yang teramat sangat sama sekali tidak ia rasakan. Bagi dirinya, rasa sakit itu seperti ia nikmati karena nyeri yang tertahankan tersebut adalah pembuka jalan bagi pertemuannya dengan Saniscara di alam kematian.

Dyah Pitaloka tak perlu menunggu lama untuk merasakan datangnya ajal menjemput. Meskipun merasakan kematian yang pedih, senyum tetap terpancar dari wajahnya. Raut mukanya yang begitu cantik tak henti-hentinya menebarkan pesona meski sosoknya kini telah tak bernyawa.

Mendengar berita mengenai serangan di lapangan Bubat, Hayam Wuruk beserta ibunya yang dikawal beberapa prajurit segera datang untuk melihat apa yang terjadi. Namun sudah terlambat, Prabu Hayam Wuruk begitu kaget. Hatinya pedih seperti disayat-sayat. Ia meratapi mayat Dyah Pitaloka, gadis yang telah membuatnya jatuh cinta.
Hayam Wuruk: Pitaloka, kekasihku, bangunlah ! Sebentar lagi pesta pernikahan kita akan dimulai !!!
Prabu Hayam Wuruk terus menerus menggoyang-goyangkan tubuh Dyah Pitaloka yang amat dicintainya itu, namun sudah pasti pemilik tubuh itu tak akan bangun untuk selama-lamanya. Prabu Hayam Wuruk menangis, sampai pada akhirnya Sang Prabu menggendong jasad Dyah Pitaloka untuk dibawa ke istana. Keadaan menjadi sangat haru. Tribhuwanatunggadewi marah besar.
Tribhuwana: Gajah Mada, apa yang telah kau perbuat ? Berani melawan kehendak raja, kau sama sekali tidak pantas menjadi Mahapatih !!!
Gajah Mada: Ini adalah akibat dari kesalahan mereka sendiri yang tidak mau mengakui kedaulatan Majapahit !
Tribhuwana: Kau benar-benar keterlaluan ! Setelah ini, kau akan mendapat hukuman yang setimpal dari Sang Prabu !!!

Atas kesalahan besar yang dibuatnya, Mahapatih Gajah Mada dicopot dari jabatannya dan menyingkir ke daerah selatan Ywangga. Sedangkan Prabu Hayam Wuruk tidak perlu lama-lama bersedih hati. Karena meskipun gagal memperistri Sekar Kedaton Sunda Galuh, Dyah Pitaloka Citraresmi, tak lama waktu berselang Hayam Wuruk menikah dengan sepupunya sendiri, Sri Sudewi.

-SELESAI-
Sumber : http://maharanigayatri.blogspot.co.id/2014/11/naskah-drama-perang-bubat.html