Pengertian Drama Serta Ciri-Ciri, Unsur dan Jenisnya

Advertisement
Continue Reading Below
Pengertian Drama Serta Ciri-Ciri, Unsur dan JenisnyaAdegan Dalam Beksan Golek Menak genre drama tari ciptaan Sri Sultan Hamengku Buwono IX (1940-1988).

Pengertian Drama ditinjau dari kajian bahasanya berasal dari bahasa Yunani, yaitu “draomai” yang berarti berbuat, bertindak, bereaksi, dan berlaku. Sehingga secara harfiah drama dapat diartikan sebagai suatu perbuatan atau tindakan. Drama merupakan salah satu genre atau jenis sastra yang menggambarkan gerak kehidupan. Pementasan naskah drama dikenal dengan istilah teater.

Berdasarkan catatan sejarah, drama sudah dikenal manusia sejak abad kelima sebelum masehi. Hal tersebut didasarkan pada penemuan satu naskah kuno di Yunani, yang menceritakan tentang persembahan kepada para dewa, yang ditulis oleh Aeschylus, yang hidup antara tahun 525 – 456 SM.

Di Indonesia, drama juga dipercaya sudah ada sejak jaman dulu yang diawali dengan upacara keagamaan yang diselenggarakan oleh para pemuka agama. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, drama disebut dengan “tonil”. Tonil kemudian berkembang, dan oleh P.K.G. Mangkunegara VII, istilah tonil diganti dengan istilah “sandiwara”. Sandiwara berasal dari kata dalam bahasa Jawa, yaitu “sandi” yang berarti rahasia dan “wara” atau “warah” yang berarti pengajaran. Sehingga istilah sandiwara mengandung makna pengajaran yang dilakukan dengan perlambang.

Pada artikel ini penulis akan menjelaskan secara lengkap apa itu drama. Dari pengertian hingga jenis-ienis dari drama. Simak pembahasannya dibawah ini.

Pengertian Drama

Istilah drama mempunyai banyak pengertian. Pengertian drama dapat dibedakan dalam dua arti, yaitu:

  1. Drama dalam arti sempit, drama diartikan sebagai suatu kisah hidup manusia dalam masyarakat yang diproyeksikan di atas panggung.
  2. Drama dalam arti luas, drama diartikan sebagai semua bentuk tontonan atau pertunjukkan yang mengandung cerita yang dipertunjukkan di depan khalayak umum.

Pengertian drama juga harus dibedakan antara pengertian drama tradiional dan pengertian drama modern yaitu sebagai berikut:

  1. Drama tradisional merupakan suatu aktivitas drama dengan menggunakan improvisasi dalam dialognya.
  2. Drama modern merupakan suatu aktivitas drama dengan menggunakan naskah dialog.

Sedangkan secara umum, drama diartikan sebagai suatu karya sastra yang tertulis dalam bentuk dialog, dengan maksud dipertunjukkan oleh para pemain atau aktor. Drama juga dapat berarti cerita yang diperagakan di panggung dan berdasarkan sebuah naskah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, drama diartikan dalam beberapa pengertian, yaitu :

  1. Komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku (akting) atau dialog yang dipentaskan.
  2. Cerita atau kisah, terutama yang melibatkan konflik atau emosi, yang khusus disusun untuk pertunjukan teater.
  3. Kejadian yang menyedihkan.

Pengertian Drama Menurut Para Ahli

Menurut Tim Matrix Media Literata, drama adalah bentuk narasi yang menggambarkan kehidupan dan alam manusia melalui perilaku (akting) yang dipentaskan. Selain pengertian tersebut, para ahli juga telah mengemukakan pendapatnya tentang apa yang dimaksud dengan drama, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Seni Handayani, berpendapat bahwa drama adalah bentuk komposisi berdasarkan dua cabang seni, seni sastra dan seni pertunjukan, sehingga drama dibagi dua yaitu drama dalam bentuk teks tertulis dan drama dipentaskan.
  2. Budianta dkk, berpendapat bahwa drama adalah genre sastra di mana penampilan fisiknya memperlihatkan secara verbal adanya percakapan atau dialog diantara para tokoh yang ada.
  3. Ferdinand Brunetierre, berpendapat bahwa drama adalah suatu karya sastra yang disampaikan dengan aksi atau gerak dan melahirkan keinginan bagi yang melihatnya.
  4. Krauss, berpendapat bahwa drama adalah suatu bentuk gambaran seni yang datang dari nyanyian dan tarian ibadat Yunani kuno, yang di dalamnya dengan jelas terorganisasi dialog dramatis, sebuah konflik, dan penyelesaiannya digambarkan di atas panggung.

Ciri-Ciri Drama

Drama mempunyai ciri-ciri tersendiri yang membedakannya dengan jenis karya sastra yang lain. Secara umum, ciri-ciri drama diantaranya adalah :

  1. Drama merupakan prosa modern yang berbentuk naskah untuk dibaca dan dipentaskan
  2. Seluruh kisah dalam cerita drama disampaikan dalam bentuk dialog, baik dialog antar tokoh maupun dialog toloh dengan dirinya sendiri (monolog).
  3. Drama harus memiliki tokoh atau karakter yang diperankan, baik oleh manusia, wayang, atau boneka.
  4. Dalam drama harus terdapat konflik atau ketegangan yang menjadi inti dari cerita drama.
  5. Pementasan drama biasanya dilakukan di atas panggung yang dilengkapi dengan beberapa perlengkapan dan peralatan untuk menghidupkan suasana.
  6. Pertunjukan drama selalu dilakukan dihadapan penonton di mana drama tersebut dilakukan sebagai sarana hiburan.

Ciri-Ciri Naskah Drama

Sedangkan untuk teks atau naskah drama, mempunyai ciri-ciri yaitu sebagai berikut:

  1. Seluruh cerita drama berbentuk dialog, baik tokoh maupun narator. Inilah ciri utama dalam naskah dialog, semua ucapan ditulis dalam bentuk teks.
  2. Dialog dalam drama tidak menggunakan tanda petik (“…”), hal ini karena dialog drama bukan sebuah kalimat langsung.
  3. Naskah drama dilengkapi dengan sebuah petunjuk tertentu yang harus dilakukan pada tokoh pemeran yang bersangkutan. Petunjuk tersebut ditulis dala tanda kurung atau dapat juga dengan menggunakan jenis huruf yang berbeda dengan huruf pada dialog.
  4. Naskah drama terletak di atas dialog atau disamping kiri dialog.

Unsur-Unsur Drama

Beberapa unsur yang harus ada dalam drama adalah sebagai berikut :

  1. Tema, yaitu ide pokok atau gagasan utama sebuah cerita drama.
  2. Alur atau Plot, yaitu jalan cerita dari sebuah pertunjukan drama, mulai dari babak pertama sampai babak akhir.
  3. Watak, yaitu perilaku yang diperankan oleh tokoh drama. Watak dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu watak protagonis adalah watak atau perilaku baik yang diperankan oleh tokoh drama, dan watak antagonis adalah watak atau perilaku jahat yang diperankan oleh tokoh drama.
  4. Tokoh drama, yaitu pelaku drama, yang terdiri dari tokoh utama dan tokoh pembantu.
  5. Latar atau setting, yaitu gambaran tempat, waktu, dan situasi peristiwa dalam cerita drama.
  6. Amanat drama, yaitu pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada penonton. Dalam drama, amanat disampaikan melalui peran para tokoh drama.

Struktur Drama

Drama merupakan sebuah karya yang memuat nilai artistik yang tinggi. Dalam sebuah drama terdapat alur yang tertata yang merupakan struktur dari drama. Dengan adanya struktur tersebut, penonton dapat menikmati sebuah drama yang dipentaskan. Struktur dalam drama adalah sebagai berikut :

  1. Babak atau episode, yaitu bagian dari naskah drama yang merangkum peristiwa yag terjadi di suatu tempat dengan urutan waktu tertentu.
  2. Adegan, yaitu bagian dari drama yang menunjukkan terjadinya perubahan peristiwa yang ditandai dengan terjadinya setting wakti, tempat, dan tokoh.
  3. Dialog, yaitu percakapan yang dilakukan oleh dua atau beberapa tokoh dalam drama. Dialog merupakan hal utama yang membedakan drama dengan karya sastra lainnya.
  4. Prolog, yaitu kata pengantar ketika akan masuk dalam sebuah drama yang memberikan gambaran umum tentang drama yang dipentaskan.
  5. Epilog, yaitu bagian akhir dari sebuah drama di mana isinya menjelaskan kesimpulan, makna, dan pesan dari drama yang dipentaskan.

Jenis Drama

Drama dapat dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan sebagai berikut :

  1. Penyajian Lakon

Berdasarkan penyajian lakon, drama dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu :

    1. Tragedi, adalah drama yang mengisahkan kesedihan dari tokoh utama dalam drama. Drama jenis ini biasanya berakhir dengan menyedihkan.
    2. Opera, adalah drama yang dialognya dilakukan dengan cara bernyanyi dan diiringi musik.
    3. Komedi, adalah drama yang menunjukkan kelucuan para tokoh atau alur cerita lucu.
    4. Tragekomedi, adalah drama yang memadukan antara tragedi dan komedi pada waktu yang sama.
    5. Melodrama, adalah drama yang dialog dan lakonnya dilakukan sambil diiringi oleh musik atau melodi.
    6. Tablo, adalah drama yang dilakukan di mana para tokoh tidak melakukan dialog, tapi menggunakan kemampuan melakukan gerakan tanpa suara seperti pantomim.
    7. Farce, adalah drama yang mempertujukkan berbagai hal lucu melalui tingkah para pelakon.
    8. Sendratari, adalah drama yang merupakan penggabungan antara seni drama dan seni tari.
  1. Keberadaan Naskah

Berdasarkan keberadaan naskah, drama dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu :

    1. Drama tradisional, adalah drama yang dipertunjukkan di mana para pemeran tidak menggunakan naskah saat berada di panggung. Dalam hal ini, pemeran membaca gambaran cerita secara umum, kemudian berimprovisasi sesuai dengan peran masing-masing.
    2. Drama modern, adalah drama yang dipertunjukkan di mana para pemeran menggunakan naskah saat berada di panggung. Tetapi para pemeran dapat berimprovisasi pada bagian-bagian tertentu.
  1. Sarana

Berdasarkan sarana, drama dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu :

    1. Drama panggung, adalah drama yang diyampilkan sepenuhnya di atas panggung, di mana para pemain tidak dapat melakukan pengulangan adegan.
    2. Drama televisi, adalah drama yang ditampilkan di televisi, di mana para pemain dapat melakukan pegulangan adegan karena tidak ditampilkan secara langsung.
    3. Drama radio, adalah drama yang hanya dapat didengarkan tanpa dilihat.
    4. Drama film, adalah drama yang ditampilkan di layar lebar seperti bioskop.
    5. Drama wayang, adalah drama yang diperankan oleh wayang pada setiap adegannya.
    6. Drama boneka, adalah drama yang menggunakan boneka sebagai tokoh di setiap adegannya.

Penutup

Banyak hal yang harus dilakukan oleh para pemeran drama, satu hal yang penting adalah latihan peran. Latihan peran meliputi latihan gestur (gerak wajah, tangan, kaki sesuai naskah), sikap, dialog, artikulasi yang pas, ekspresi wajah, gerakan tubuh, blocking atau perpindahan dari tempat satu ke tempat yang lain. Selain itu, masih banyak lagi hal lain yang harus dilatih dan dipersiapkan oleh para pemeran drama sebelum melakukan pementasan drama.

Demikianlah artikel dari penulis tentang drama secara lengkap dari pengertian, ciri-ciri, unsur, dan jenis drama. Semoga bermanfaat bagi Anda dan terimakasih.

Sumber Pustaka

  1. Budianta, Melanie, dkk. 2002. Membaca Sastra. Magelang: Indonesiatera.
  2. Hasanuddin, Drs. 1996. Drama: Karya dalam Dua Dimensi (Kajian Teori, Sejarah dan Analisis). Bandung, Angkasa.
  3. Krauss, Hedwig. 1999. Verstehen und Gestalten. München: Franzis Print and Media GmbH.
  4. Waluyo, Herman J. 2001. Drama: Teori dan Pengajarannya. Yogyakarta: Hanindita Graha Widia.
Advertisement
Continue Reading Below