RESENSI BUKU TROWULAN BEKAS IBUKOTA MAJAPAHIT

RESENSI BUKU TROWULAN BEKAS IBUKOTA MAJAPAHITIDENTITAS BUKU
Judul Buku       : Trowulan Bekas Ibukota Majapahit
Penulis                  : Drs. DJOKO
Penerbit                 : Balai Pustaka
Tebal Buku           : 72 halaman
Tahun Terbit         : 1983
ISBN                    : 979 – 407 – 302 – 4
Peresensi              : ANNISA KAHARUNIA HERYANI

Sinopsis               :

Buku ini ditulis oleh orang-orang yang menjadi satu kelompok karena tidak bisa melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi dan dibantu oleh Drs.Djoko yang memandu anak-anak ketika akan melakukan StudyTour.

Wisata Pelajar ke Trowulan
Trowulan, suatu kecamatan yang termasuk Kabupaten Mojokerto. Kecamatan ini menarik banyak pengunjung, karena di zaman dahulu, 5 abad yang lalu, didaerah ini berdiri ibu kota kerajaan Majapahit. Kerajaan Majapahit adalah satu kerajaan indonesia yang dalam masa kejayaannya pernah menguasai wilayah yang luasnya sama dengan wilayah indonesia sekarang.
Di Trowulan juga masih ada peninggalan-peninggalan yang pernah dialami di masa lampau, berupa candi, seperti Wringin Lawang, Candi Brahu, Bajang Ratu, Candi Tikus, Sumur Upas, Segaran, Siti Inggil, dan lain lain.

Sejarah Majapahit Selayang Pandang
Setelah berdirinya kerajaan Majapahit, Raden Wijaya meluaskan daerahnya yang menyebabkan ia berhadapan dengan dua orang musuh kuat. Pertama, Kaisar Kublai Khan dari Cina, yang menuntut supaya Raja Singasari tunduk kepada Cina. Kedua, Adipati Jayakatwang dari Kediri, yang pada tahun 1292 menyerang Kraton Singasari.
Adipati Wiraraja merencanakan suatu siasat untuk menjatuhkan Raja Jayakatwang. Atas nasihat Adipati Wiraraja dari Madura, Raden Wijaya menyatakan diri takluk kepada Raja Kediri. Ia diterima menjadi pegawai, malahan mendapat kepercayaan. Ia minta dan kemudian diizinkan, dengan bantuan orang-orang Madura, mendirikan tempat pemukiman di Tanah Terik dekat Mojokerto, yang kemudian disebut Majapahit. Nama ini terjadi karena salah seorang pengikut memakan buah yang bernama maja dan rasanya pahit.
Museum Mojokerto
Museum ini didirikan oleh R.A. Kromo Djojo Adinegoro, dahulu Bupati Mojokerto, yang memprakarsai dan kemudian, tidak henti-hentinya, selama hidupnya tetap mencurahkanperhatian terhadap museum ini, sehingga museum ini terus berkembang. Di Museum ini terdapat banyak prasasti. Prasasti yang ada di Museum ini berbahasa Jawa Kawi. Di Museum ini pun terdapat arca yang biasa disebut dewa Wishnu yang mengendarai garuda. Dewa Wishnu duduk di atas alas yang berbentuk bunga teratai, sedangkan satu kakinya tergantung. Dewa ini digambarkan bertangan empat, satu pasang di depan diletakkan di atas pangkuan, satu pasang lagi di belakang menempel pada dinding belakang yang berbentuk setengah lingkaran. Di tangan kanan ia memegang kerang bersayap. Kerang adalah salah satu atribut dewa Wishnu.
Candi, Bentuk Dan Gunanya
Kaki candi, mempunyai denah yang selalu berbentuk bujur sangkar. Biasanya kaki ini dibuat agak tinggi, yang dapat dinaiki melalui tangga. Tangga ini menuju ke suatu bilik. Didalam kaki candi, di tengah-tengah ada sebuah perigi. Didalam perigi itu disimpan pripih, tempat abu jenazah raja yang meninggal.
Tubuh candi, yang terdiri atas sebuah bilik, tempat arca raja disimpan. Arca ini berdiri ditengah-tengah bilik, tepat di atas perigi, menghadap ke arah pintu masuk yang menuju ke dalam candi. Pada sisi luar dibuatkan relung-relung, dimana ditempatkan arca-arca yang kecil.
Atap candi, candi-candi di Trowulan kesemuanya berdiri sendiri-sendiri tidak ada yang berkelompok, sedangkan langgam yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Bentuknya ramping, berbeda dengan candi di Jawa Tengah yang biasanya pendek, gemuk.
2. Puncaknya berbentuk kubus.
3. Reliefnya menyerupai wayang
4. Kebanyakan dibuat dari batu bata
Berita-Berita Tentang Ibukota Majahit Didalam Buku-Buku Lama
        Berita itu menceritakan antara lain, bahwa istana raja dikelilingi oleh pagar tembok, yang dibuat dari batu bata, tingginya lebih dari 9 m dan panjangnya lebih dari 31 m. Rumah-rumah dibuat sangat tinggi diatas tanah, antara 9-13 m. Lantai rumah dibuat dari papan, diatas papan dibentangkan tikar dari rotan atau tikar dari pandan yang dibubuhi gambar-gambar. Atapnya dibuat dari kayu yang besar yang dibelah dan dijadikan genting.
Pelestarian Lingkungan
Pelestarian lingkungan wisata bertujuan untuk mencegah menurunnya keindahan alam, tetapi tidak mengurangi kemungkinan orang-orang untuk datang guna rekreasi atau bermain-main di tempat wisata.

Kelebihan
Buku ini sangat bagus untuk dipelajari karena menyangkut tentang sejarah yang pernah terjadi di masa lampau, dan yang membaca pun dapat mendapat pengetahuan yang lebih banyak.

Kekurangan
Hanya terdapat 72 halaman yang menjadikan penjelasan yang kurang meluas untuk menjelaskan sejarah tentang majapahit yang belum banyak diketahui orang banyak.