Analisis Kajian Drama “Senja dengan Dua Kematian”

Advertisement
Continue Reading Below
Berikut ini adalah salah satu contoh bagaimana menganalisis sebuah drama. Drama yang dikaji atau dianalisis berjudul “Senja dengan Dua Kematian”.

Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengetahui unsur yang ada di dalam drama misalnya unsur intrinsik dan unsur ekstrinsiknya.

Kajian ini hanya singkat. Oleh karena itu silakan untuk menambahkan kekurangan dari kajian ini di kolom komentar.
Analisis Kajian Drama "Senja dengan Dua Kematian"

1. Dramaturgi

a. Penokohan 

Penokohan dalam drama senja dengan dua kematian ini memunculkan tokoh yang jahat yang disebut dengan antagonis yaitu Kardiman yang tidak memerdulikan keluarganya lagi hanya kesenangan duniawi saja yang dipikirkannya. 

Saking jahatnya istrinya dibiarkannya sakit terbaring di rumah sakit tanpa dijenguk olehnya.

Kemudian penokohan yang bersifat baik disebut protagonis yaitu Wijasti yang penyabar dan mampu bertahan hidup dilingkungan yang susah dan sulit baik dari himpitan keluarga yang berantakan maupun ekonomi yang serba kekurangan.

Dan penokohan yang hanya sebagai peran pembantu yaitu tritagonis yang diperankan oleh Karnowo, Sumadijo dan Surtini. 

Walaupun hanya sebagai pemeran pendamping dari naskah ini tapi dengan pemeran tersebut sebuah cerita akan tambah hidup dan berwarna.

b. Perwatakan 

Watak para tokoh dalam drama ini bermacam-macam. Ada yang bersifat baik dan penyabar seperti Wijasti dan Sumadijo, serta bersifat tidak baik atau jahat yaitu Kardiman dan Karnowo. 

Perwatakan yang bersifar tidak baik biasanya orangnya tidak sabar, gampang marah, bicaranya sembarangan tidak memerdulikan salah atau benar dan tidak disukai orang lain, 

contohnya Kardiman orangnya yang bersifat jahat atau tidak baik selalu mencari masalah, ditambah lagi dengan berjudi, suka main perempuan dan tidak menjaga keluarga dan rumah tangga.

2. Pengetahuan

a. Manusia

Pengetahuan yang dapat diambil dari drama “Senja dengan Dua Kematian” ini adalah manusia itu ternyata banyak sekali sifatnya.

tidak sama sifat antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Dan dari mempelajari manusia kita dapat menambah wawasan tentang manusia yang sifat-sifatnya baik atau tidak baik. 

Biasanya manusia yang perilakunya tidak baik selalu akan menemui kegagalan di akhir ceritanya seperti Kardiman yang sangat jahat terhadap keluarga dan orang sekitar akhirnya tewas dengan kehidupan yang sangat menyedihkan.

Tapi ada juga yang sebaliknya karena menyesali akan perbuatannya akhirnya ia sadar seperti yang terjadi kepada Karnowo.

b. Kehidupan

Dipandang dari segi kehidupan bahwa hidup itu bermacam-macam ada yang menyenangkan, menyedihkan, kadang-kadang di bawah dan kadang-kadang pula di atas. 

Dan dari semua itu sebagai manusia yang mengetahui dan mempelajari kehidupan, dia akan menemukan dua sisi kehidupan manusia yang suka atau duka akan silih berganti. 

Dan dari dua sisi kehidupan itu akan diketahui seberapa kuat manusia akan tahan dan kuat menahan segala cobaan hidupnya baik yang menyenangkan atau yang menyedihkan.

Kita dapat belajar dari sebuah drama ini tentang kehidupan kita sehari-hari seperti Wijasti walaupun kehidupannya sangat menyedihkan tapi ia tidak pernah mengeluh terhadap nasib yang menimpanya. 

c. Bahasa

Bahasa yang digunakan dalam naskah drama ini adalah bahasa yang digunakan sehari-hari, dengan bahasa yang digunakan oleh penulis yang sederhana dan mudah dimengerti oleh pembaca, maka para pembaca naskah dengan mudah memahami naskah

3. Pendekatan

a. Mimetis

Pengarang naskah ini mengambil ide dari alam sekitar atau kehidupan nyata, karena cerita naskah “Senja dengan Dua Kematian” sangat mirip dengan kajadian yang pernah terjadi di kehidupan manusia baik yang sekarang akan datang maupun sebelumnya. 

Kardiman sangat cocok perilakunya dengan orang yang berperilaku tidak baik sedangkan Wijasti.

4. Latar Cerita

a. Alur Cerita

Alur dari naskah drama “Senja dengan Dua Kematian” ini terbagi menjadi 23 adegan  merupakan alur tetap dengan alur maju yang sesuai dengan urutan alur yang sudah dibakukan secara konvensional, yakni:

Permulaan
Pada bagian ini merupakan bagian memperkenalkan pemain beserta identitas, tempat terjadinya peristiwa dan sifat-sifatnya baik yang antagonis, protagonist maupun tritagonis.

Naik
Pada bagian ini masalah mulai muncul yaitu ketika Kardiman ingin meminjam uang kepada Karnowo supaya dapat bermain judi, tapi Karnowo minta syarat supaya anak Kardiman Wijasti mau jadi istrinya.  

Krisis
Masalah yang muncul tadi akhirnya memuncak ketika Wijasti tahu bahwa Kardiman bukan ayah kandungnya dan ketika Karnowo memerkosa Wijasti.

Menurun
Bagian ini ketika Surtini mendatangi rumah Wijasti memberitahukan bahwa ayahnya sakit di rumahnya dan takut didatangi oleh masyarakat sekitar.

Penyelesaian
Disebut juga bagian penutup, yaitu ketika Karnowo ingin meminta maaf kepada Wijasti karena tahu bahwa Wijasti bukanlah ayah dari Kardiman dan Kardiman akhirnya tewas di sudut gang.

b. Tema

Tema dari naskah dram “Senja dengan Dua Kematian” ialah tragedi. Tema ini yaitu drama yang menampilkan tokoh yang sedih atau muram, yang terlibat dalam situasi gawat karena sesuatu yang tidak menguntungkan. Keadaan tersebut mengantarkan tokoh pada kehancuran. 

c. Penggunaan Gaya Bahasa

Ada beberapa gaya bahasa yang digunakan oleh penulis naskah “Senja dengan Dua Kematian” yaitu:
Metafora
Adegan I
(karnowo): Ha, ha, ha…. Si manis bulat panjang luar biasa “servis”-nya malam tadi.

Hiperbola
Adegan I
(Kardiman): mau sih mau. Tapi nafasku ini payah sekali. Jantungku seperti sudah bocor. Mau mampus barangkali.

Adegan II
(Kardiman): he, bagaimana hubunganmu dengan laki-laki lembek itu?

Adegan III
(Wijasti): rumah tangga ini sudah porak poranda. Kalau aku tidak memikirkan ibu, aku sudah minggat dari rumah ini.

Perbandingan
Adegan I
(kardiman): …… kalau ia ada di rumah, masa aku bisa bebas berteriak-teriak macam orang edan.

Personifikasi
Adegan I
(Kardiman): Bangsat! Sangkamu aku tak tahu kalau kamu hanya ingin menari-nari di atas keperawanannya…..
Advertisement
Continue Reading Below