Cara Merencanakan Penulisan Ilmiah

Advertisement
Continue Reading Below

Seorang Insiyur teknik sipil yang akan membangun jembatan atau gedung, ia akan membutuhkan sebuah perencanaan yang serius. Demikian Juga seorang penulis sebelum ia melakukan tugasnya hendaklah merencanakan segala sesuatu berkenaan karyanya. Agar pembicaraan menjadi teratur diperlukan suatu susunan atau yang lebih dikenal dengan sistematika. Untuk itu, sebelum mulai menulis baiklah dibuat lebih dahulu garis besar karangan. Garis besar karangan, yang didalam bahasa lnggris disebut ‘Outline” yang dianggap sebagai rencana kerja sebelum penulis mulai melangkah. dapat menolong penulis menyusun pikirannya. 

Seorang penulis profesional memang tidak membutuhkan lagi garis besar, mereka terus menghadapi mesin ketik dan yang hendak ditulisnya seakan meluncur begitu saja, tanpa tersendat-sendat. Akan tetapi jumlah mereka tidaklah banyak. Pada umumnya kita membutuhkan waktu berhari-hari, bahkan berbulan-bulan untuk melahirkan sebuah karya. Dalam hal ini garis besar sangat menolong sekali, teristimewa lagi bagi penulis pemula. Garis besar, yang boleh dikatakan bagian umum suatu rencana, kelak setelah karya tersebut selesai sejajar dengan isi atau malah menjadi “daftar isi” karangan tersebut. 

Kegunaan Garis Besar : 

  1. Dengan membuat garis besar maka akan kelihatan maksud tulisan tersebut, atau jika maksud tersebut telah ditetapkan dalam pikiran maka kita harus mengarah pada tujuan yang hendak dicapai. 
  2. Dari garis besar akan kelihatan juga penentuan persoalan dan pembatasannya. 
  3. Garis-garis juga memberikan kemungkinan untuk kalimat hal-hal apa (misalnya buku-buku bacaan) yang diperlukan untuk menulis, atau hendaknya apa yang diperlukan, serta metode yang sesuai untuk memecahkan persoalan tersebut. 
  4. Garis besar memungkinkan kita meninjau perimbangan bab-bab atau bagian-bagian dalam karangan tersebut. Kita dapat merencanakan berapa halaman panjangnya, menurut suatu perimbangan yang baik. 
  5. Garis besar memperlihatkan juga pemecahan persoalan (kesimpulan) 
  6. Dengan menghadapi sebuah garis besar penulis dapat melihat dengan jelas matei-matei yang diperlukan, serta materi-materi yang telah diperoleh harus dimasukkan dalam bab-bab yang mana. Dengan demikian nantinya sebuah karya ( karangan) akan kelihatan teratur, mempunyai hubungan timbal balik, dan tepat pada sasarannya. 

Kita mengenal bermacam-macam garis besar. Namun didalam karangan ini disebutkan dua macam, yaitu garis besar ringkas dan garis besar terurai. 

Contoh garis besar terurai ; 

1. Pengertian koran masuk desa 

a. KMD sebagai sarana informasi, pendidikan, dan sosial kontrol 

b. KMD bukan berarti koran dibagikan pada masyarakat desa 

2. KMD ( Koran Masuk Desa) sebagai sarana pembangunan 

a. Usaha merangsang masyarkat pedesaan untuk membangun 

b. Menjadikan desa sebagai subyek 

3. KMD sebagai arena promosi pembangunan 

a. Apa yang dimuat dalam KMD 

b. Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk membangun. 

Contoh-contoh Garis besar ringkas : 

1. KMD – pengertiaannya 

a. Sarana informasi, pendidikan, dan sosial kontrol 

b. Bukan berarti dibagi-bagikan 

2. KMD – sebagai pembangunan 

a. Merangsang masyarakat 

b. Menjadikan subyek 

3. KMD – arena promosi 

a. Apa yang dimuat 

b. Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat. 

4. Kesimpulan. 

Melihat kedua contoh di atas jelas bahwa antara garis besar terurai dengan garis besar ringkas lebih menguntungkan garis besar terurai. Di satu pihak garis besar terurai merupakan kalimat-kalimat selesai, sehingga nantinya di dalam mengerjakannya tidak akan timbul keragu-raguan lagi. Di pihak lain garis besar ringkas hanya tercantum kepala-kepala persoalan yang memungkinkan kita tidak ingat lagi dalam waktu beberapa hari saja. Itulah sebabnya garis besar terurai di dalam merencanakan karya ilmiahnya.

Oleh sebab itu garis besar adalah sesuatu yang dapat menolong pengarang/penulis didalam jalan pikirannya. maka garis besar selamanya dapat diubah dan kalau perlu dirombak apabila tidak sesuai dengan jalan pikiran kita. Itulah sebabnya kadang-kadang kita membuat garis besar/outline yang baru setelah karya tersebut selesai kita kerjakan. Sekali lagi jangan dilupakan bahwa garis besar hanyalah alat penolong, bukan tujuan.

Syarat-syarat garis besar yang baik 

Sebelum kita melangkah pada masalah bagaimana kita memperoleh data untuk penyusunan penulsan ilmiah. sebaiknya kita membicarakan tentang garis besar outline yang baik. Sebenarnya di dalam membicarakan perencanaan garis besar telah disinggung pula mengenai persyaratan untuk menyusun garis besar. Tetapi untuk mendapatkan gambaran secara khusus maka hal itu akan kita bicarakan secara tersendiri. Lepas dari besar kecilnya garis besar yang dibuat. sebuah garis besar/outline haruslah memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut: 

a. Tiap unit (satuan) garis besar harus mengandung hanya satu ide. 

Di dalam tiap unit garis besar tidak boleh memiliki lebih dari satu ide pokok. Akibatnya tidak boleh ada pokok yang terdiri atas dua kalimat atau topik. Kalau terjadi maka ide pokok tersebut haruslah dipecah ke dalam dua topik atau dua kalimat. Apabila dua ide pokok tersebut dibiarkan dalam satu unit maka hubungan strukturnya tidak akan tampak jelas. Oleh sebab itu kalau terjadi hal yang demikian maka garis besar tersebut harus segera direvisi (diperbaiki). Bila kedua ide tersebut berada dalam situasi yang setara, maka masing-masingnya harus ditempatkan pada urutan simbol yang sama derajatnya. Namun apabila berbeda maka ide-ide tersebut haruslah ditempatkan dalam simbol yang berbeda derajatnya. 

Agar memperoleh gambaran secara nyata maka perhatikan contoh berikut : 

Tema 

a. Kekerasan hidup 

1. Manusia dalam proses pencarian identitas dirinya. 

2. Kesulitan manusia dalam berhubungan dengan sesamanya. 

b. Keingintahuan manusia terhadap segala sesuatu 

1. Segala yang dipikirkan orang lain 

2. Apa yang dirasakan oleh orang lain 

c. Pokok-pokok dalam garis besar harus disusun secara logis. 

Persoalan-persolan atau fakta-fakta yang dicatat dibawah judul utama haruslah merupakan bawahan langsung dan tidak boleh sama pentingnya dengan judul utamanya. Hal ini dimaksudkan agar pembicaraan dalam bab-bab tersebut mengarah pada sasarannya. Demikian juga tiap pokok tambahan haruslah secara langsung menunjang atau mendukung dan memperkuat pokok yang penting, sehingga urut-urutannya logis. 

Harus mempergunakan pasangan simbol yang konsisten 

Seperti tampak pada contoh-contoh sebelumnya, tiap pokok harus disusun dalam saris vertikal yang berlainan sehingga simbol-simbolnya dapat dikelihatan dengan jelas. Satu hal yang tidak boleh dilakukan yaitu mengubah pasangan tersebut di tengah-tengah saris besar/outline. Pokok- pokok yang mempunyai kepentingan sama harus diberi simbol sama, sedangkan pokok-pokok yang berbeda kepentinganya haruslah diberi simbol yang berbeda.

Dalam garis besar formal proses perencanaannya hampir sama dengan garis besar sementara. Perencanaannya terletak perumusan tema dengan cermat dan tepat, kemudian dipecah-pecah ke dalam bagian-bagian bawahan (subordinasi) yang harus dikembangkan dapat diperinci ke dalam bagian yang lebih kecil sejauh diperlukan untuk menguraikan persoalan tersebut sejelas-jelasnya

Advertisement
Continue Reading Below