Konsep Dasar Belajar Kooperatif

Advertisement
Continue Reading Below
Menurut Slavin, belajar kooperatif dapat membantu peserta didik dalam mendefinisikan struktur motivasi daan organisasi untuk menumbuhkan kemitraan yang bersifat kolaboratif (collaborative parternership). Istilah belajar kooperatif berkonotasi peserta didik belajar dalam kelompok. Mengapa peserta didik harus belajar dalam kelompok? Pada dasarnya, pengelompokkan bukanlah tujuan utama belajar kooperatif. Belajar kooperatif menuntut adanya modifikasi tujuan pembelajaran dari sekedar penyampaian informasi (transfer of information) menjadi konstruksi pengetahuan (construction of knowledge) oleh individu siswa melalui belajar berkelompok. Meskipun demikian, prinsip ini seringkali tidak tampak jelas. Informasi petunjuk pelaksanaan belajar kooperatif pada umumnya menitikberatkan pada struktur dan manajemen pembelajaran seperti distribusi gender, jumlah peserta didik dalam kelas/kelompok serta strategi pembagian tugas sehingga semua peserta didik aktif bekerja. Dalam hal ini pengelompokkan peserta didik merupakan variasi dan aktivitas pembelajaran, cara untuk mengajarkan peserta didik bekerja dalam kelompok, cara peserta didik berbagi tugas dan cara untuk belajar dari temannya. Pengelompokkan peserta didik menurut pendekatan yang berorientasi konstruktivistik, merupakan salah satu strategi yang dianjurkan sebagai cara untuk peserta didik saling berbagi pendapat, berargumentasi dan juga mengembangkan berbagai altematif pandangan dalam upaya konstruksi pengetahuan oleh individu peserta didik.

Belajar kooperatif adalah cara belajar yang menggunakan kelompok kecil sehingga peserta didik bekerja dan belajar satu sama lain untuk mencapai tujuan kelompok. Di dalam belajar kooperatif peserta didik berdiskusi dan saling membantu serta mengajak sama lain untuk memahami isi materi pelajaran.

Belajar kooperatif juga mempunyai pengertian sebagai strategi yang digunakan untuk membantu siswa atau peserta didik menemukan kekhususan dan hubungan antarindividu dalam kelompok. Belajar kooperatif lebih dari sekedar belajar kelompok atau kelompok kerja, karena belajar dalam belajar koperatif harus ada struktur dorongan dan tugas yang bersifat kooperatif, sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan-hubungan yang bersifat interdependensi yang efektif antara anggota kelompok.

Di dalam belajar kooperatif setiap anggota kelompok saling membagi ide, belajar bersama dan bertanggung jawab terhadap keberhasilan anggota lain pada kelompoknya, sebagaimana terhadap dirinya sendiri. Keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri.

Stahl mengemukakan bahwa belajar kooperatif menempatkan peserta didik atau pembelajar sebagai bagian dari suatu sistem kerjasama dalam mencapai hasil yang optimal dalam belajar. Belajar Kooperatif ini berangkat dari asumsi mendasar dalam kehidupan masyarakat yaitu ”getting better together” atau raihlah yang lebih baik secara bersama-sama. Hal tersebut mengimplementasikan di dalam pembelajaran di kelas, strategi pembelajaran belajar koperatif ini mengetengahkan realita kehidupan masyarakat yang dirasakan dan dialami oleh peserta didik dalam kesehariannya dalam bentuk yang disederhanakan dalam kehidupan kelas.

Secara umum pola interaksi yang bersifat terbuka dan langsung di antara anggota kelompok sangat penting bagi pembelajar untuk memperoleh keberhasilan dalam belajarnya, karena setiap saat mereka akan melakukan diskusi, saling berbagi pengetahuan, pemahaman dan kemampuan serta saling mengoreksi antara teman sejawat dalam belajar. Tumbuhnya rasa ketergantungan yang positif diantara sesama anggota kelompok menimbulkan rasa kebersamaan dan kesatuan tekad untuk berhasil dalam belajar. Hal ini terjadi karena dalam belajar kooperatif pemelajar diberikan kesempatan yang memadai untuk memperoleh berbagai informasi yang dibutuhkannya untuk melengkapi dan memperkaya pengetahuan yang dimiliki dari anggota kelompok belajar lainnya dan pembelajar.

Suasana belajar dan rasa kebersamaan yang tumbuh dan berkembang diantara sesama anggota kelompok memungkinkan pemelajar untuk memahami bahan ajaran dengan lebih baik. Proses pengembangan kepribadian yang demikian, membantu pula mereka yang kurang berminat menjadi lebih bergairah dalam belajar. Sementara itu pemelajar yang kurang bergairah dalam belajar akan dibantu oleh pemelajar lain yang mempunyai gairah lebih tinggi dan memiliki kemampuan untuk menerapkan apa yang telah dipelajarinya. Suasana belajar seperti itu, di samping proses belajar berlangsung lebih efektif, juga akan terbina nilai-nilai pengiring (nurturant values), yaitu nilai gotong royong, saling percaya, kesediaan menerima dan memberi dan tanggung jawab peserta didik, baik terhadap dirinya maupun terhadap anggota kelompoknya.

Berdasarkan uraian di atas yang dimaksud dengan belajar kooperatif adalah suatu strategi dalam membelajarkan peserta didik yang menekankan kepada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu diantara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok yang terdiri atas empat sampai lima orang.

Adapun unsur-unsur untuk menentukan keberhasilan penggunaan belajar kooperatif ini menurut Johnson dan Johnson dapat dicapai dengan memperhatikan lima komponen esensial sebagai berikut:

1) Saling Ketergantungan Positif (positif interdependence) 
Keberhasilan kelompok sangat tergantung pada usaha dan peran serta setiap anggota kelompoknya, karena setiap anggota kelompok dianggap memiliki kontribusi. Jadi peserta didik berkolaborasi bukan berkompetisi. Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa, sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain bisa mencapai tujuan mereka. Setiap anggota kelompok harus ada rasa saling tergantung secara positif, mempunyai rasa satu untuk semua, merasa akan sukses jika peserta didik yang lain juga sukses.

2) Tanggung Jawab Perseorangan (individual accountability) 
Penguasaan bahan ajar secara individu selaku anggota kelompok sangat menentukan sumbangan, dukungan dan bantuan yang diberikan untuk anggota lain di dalam kelompoknya. Dengan demikian setiap individu dalam kelompok mempunyai tanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahan, mempelajari bahan ajar dan bertanggung jawab pula terhadap hasil belajar kelompok sehingga keberhasilan kelompok sangat ditentukan oleh tanggung jawab setiap anggota.

3).Tatap Muka atau Interaksi Langsung (face to face interaction) 
Komunikasi verbal antar peserta didik yang didukung oleh saling ketergantungan positif diharapkan akan menghasilkan hasil belajar yang baik. Posisi peserta didik mengharuskan mereka bertatap muka satu sama lain dan berinteraksi secara langsung, saling berhadapan dan saling membantu dalam pencapaian belajar, serta menyumbangkan pikirannya dalam memecahkan masalah. Selain itu peserta didik juga harus mengembangkan keterampilan berkomunikasi secara efektif. Kegiatan berinteraksi ini akan memberikan para peserta didik untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan dan mengisi kekurangan masing-masing.

4) Komunikasi Antar Anggota (interpersonal and small group skill). 
Unsur ini menghendaki agar para pemelajar dibekali dengan berbagai keterampilan komunikasi. Sebelum menugaskan peserta didik dalam kelompok, pengajar perlu membelajarkan cara-cara berkomunikasi. Tidak setiap peserta didik mempunyai kemampuan mendengarkan dan berbicara. Keberhasilan kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapatnya.

5). Evaluasi Proses Kelompok 
Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerjasama mereka agar selanjutnya bisa bekerjasama dengan lebih efektif. Waktu evaluasi ini tidak perlu diadakan setiap kali ada kerja kelompok melainkan bisa dilakukan selang beberapa waktu setelah beberapa kali peserta didik terlibat dalam kegiatan pembelajaran kooperatif.

Advertisement
Continue Reading Below