Teori Pembentukan Bumi dan Teori Evolusi

Advertisement
Continue Reading Below
post march 2015 6 1 d46fdea015d184cb8584b051f76771c7

Perubahan-perubahan alam sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan kehidupan manusia purba di Indonesia. terjadinya perubahan-perubahan alam di dunia memunculkan beberapa teori dan penemuan tentang asal mula manusia dan masyarakat purba di kepulauan Indonesia . geologi adalah ilmu yang mempelajari bumi secara keseluruhan. Berdasarkan geologi, terjadinya bumi sampai sekarang dibagi ke dalam empat zaman. Zaman-zaman tersebut adalah merupakan periodisasi pembabakan pra aksara. 

a. Zaman Arkeokum, zaman ini berlangsung kira-kira 2.5000 juta tahun. Pada saat itu kulit bumi masih panas sehingga tidak ada kehidupan.

b. Zaman Paleozoikum, berlangsung 340 juta tahun. Makhluk hiudp yang muncul pada zaman iniadalah mikroorganisme, ikan, ampibi, reptil, dan binatang yang tidak bertulang belakang. 

c. Zaman Mesozoikum, berlangsung kira-kira 140 juta tahun. Masa ini, jenis reptil mencapai tingkat terbesar sehingga zama ini juga disebut zaman reptil. Contoh hewan Dinosaurus. Setelah berahirnya zaman ini, muncullah kehidupan yang lain, jenis burung, dan binatang menyusui tingkat rendah dan reptil mengalami kepunahan. 

d. Zaman Neozoikum, zaman ini dibagi menjadi dua. Tersier dan kuarter.

a) Zaman tersier, berlangsung sekitar 60 juta tahun. Ditandai dengan berkembangnya jenis binatang menyususi seperti jenis primata, seperti kera.

b) Zaman kuarter, kehidupan manusia sehingga merupakan zaman terpenting. Zaman dibagi menjadi dua zaman, Plestosen ditandai dengan adanya manusia purba.  Zaman Holosen ditandai dengan adanya manusia jenis Homo Sapiens yang memiliki ciri-ciri seperti manusia zaman sekarang. 

Teori Evolusi Manusia Purba

Berbicara mengenai evolusi manusia, hingga detik ini pun masih belum adanya suatu kejelasan yang pasti. Para ahli sejarah memiliki pandangan atau teorinya masing-masing, yang menunjukkan bahwa masih banyaknya pendapat seputar evolusi manusia. Bukan suatu hal yang penting untuk memperdebatkan teori manakah yang sebenarnya paling benar. Karena setiap ahli berhak beropini mengenai topik bahasan dan karena masih belum adanya sumber data yang mencukupi untuk dapat menggambarkan proses evolusi secara biologis.

Tahapan mengenai evolusi manusia purba dapat disusun berdasarkan penemuan fosil manusia. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa proses evolusi manusia purba melalui beberapa tahapan. Dan inilah tahapan-tahapan evolusi manusia purba tersebut secara umum :

Tahapan pertama ialah jenis Australophitecus. Penemuan jenis manisia purba tersebut ditandai dengan adanya penemuan fosil tertua di daerah Afrika Selatan pada tahun 1925. Ditemukan oleh seorang ahli bernama Raymond Dart. Fosil ini ditemukan pada endapan pliosen dan diperkirakan usianya telah mencapai 3 juta tahun yang lalu. Disebut sebagai Australophitecus Africanus atau kera selatan dari Afrika. Pada fosil ini dapat juga diketahui cirri-ciri fisik dari Australophitecus, diantaranya memiliki otak sebesar 500cc, tinggi tubuh 125 cm, dan beratnya 25 kg (Soejono, 1984:8-9). Dan tampaknya jenis Australophitecus ini berevolusi menjadi Pithecanthropus atau disebut pula Homo Erectus.

Tahapan yang kedua dari evolusi selanjutnya ialah jenis Pithecanthropus. Ditandai dengan adanya penemuan fosil oleh Eugene Dubois di daerah Trinil, Ngawi, Jawa Timur. Masih dengan cirri yang sama, ditemukan juga jenis Pithecanthropus di Choukoutien, Cina, dengan nama Pithecanthropus Pekinensis. Jenis ini diperkirakan hidup pada plestosen tengah sampai plestosen akhir. Pithecanthropus ini setingkat lebih maju dari jenis sebelumnya. Hal ini dapat diketahui dari ukuran volume otaknya yaitu sekitar 750-1300 cc, tinggi tubuhnya, dan bentuk gigi.

Masa berganti dan diperkirakan Pithecanthropus punah, berevolusi menjadi jenis Homo. Jenis Homo sendiri diketahui telah berevolusi menjadi dua tahapan. Yaitu Homo neanderthalensis dan Homo Sapiens. Tahapan Homo neanderthalensis bermula dari penemuan fosil pada tahun 1856 di lembah Neander, Jerman oleh Dusseldorf. Selain di Jerman penemuan fosil sejenis juga ditemukan di daerah Eropa Tengah, Palestina, Eropa Barat, dan Rusia. Mempunyai cirri-ciri dahi miring, muka menonjol, volume otak 1600 cc (Howell, 1980). Kemudian menginjak pada tahapan berikutnya yaitu Homo Sapiens. Homo Sapiens berawal dari penemuan fosil pada tahun 1968 di gua Cro-Magnon. Dikenal dengan Homo Sapiens cro-magnon. Volume otaknya 1660 cc, dahinya bagus, bentuk muka yang sangat lebar dan pendek, dan bentuk dagu yang menonjol ke depan (Howell, 1980). Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwasannya evolusi manusia purba ada beberapa tahap, diantaranya tahap pertama ditandai dengan munculnya fosil Australopithecus. Kemudian tahap selanjutnya adalah jenis Pithecanthropus. Disangka jenis ini punah, dan berevolusi menjadi Homo neanderthalensis dan Homo Sapiens.

Evolusi Manusia Purba di Indonesia (Jawa)

Penemuan demi penemuan fosil-fosil manusia di Indonesia menunjukkan bahwa dahulunya pernah berlangsung suatu kehidupan manusia purba. Di Indonesia kajian mengenai evolusi manusia purba dipelajari dalam studi paleoanthropology. Pada studi tersebut akan diketahui data-data fisik manusia purba yang hampir lengkap mulai dari bentuk yang masih sederhana hingga wujud yang sudah mumpuni untuk dapat diteliti. Secara kronologis, temuan fosil pertama kali di Indonesia ditemukan oleh Van Rietschoten pada tahun 1889 berupa tengkorak manusia Homo Wajakensis di Wajak, Tulungagung. Setelah itu disusul oleh penemuan atap tengkorak Pithecanthropus di Trinil, Ngawi, oleh Eugene Dubois pada tahun 1890. Kemudian penelitian selanjutnya banyak ditemukan manusia fosil diantaranya :

Tahun 1931-1933, penemuan tengkorak dan tulang kering Pithecanthropus Soloensis, di Ngandong. Tahun 1936, penemuan fosil tengkorak anak Pithecanthropus Mojokertensis, di Perning, Mojokerto. Tahun 1936-1941, penemuan fosil rahang, gigi, dan tengkorak Meganthropus Paleojavanicus.

Karena ada perang dunia II maka pencarian fosil sempat berhenti, dan mulai tahun 1952 penelitian berlanjut sampai sekarang. Hasilnya, ditemukan bagian-bagian tubuh Pithecanthropus yang sebelumnya belum ditemukan. Seperti; tulang-tulang muka, dasar tengkorak, dan tulang pinggul.

Sebagian besar manusia fosil yang ditemukan di Indonesia hanya berada di Jawa. Oleh sebab itu untuk membahas evolusi manusia purba di Indonesia diartikan sebagai studi evolusi manusia purba di Jawa. Bermula dari penemuan fosil Meganthropus Paleojavanicus di Jawa, merupakan awal dari evolusi manusia purba di Jawa. Fosil ini ditemukan pada plestosen bawah dan diperkirakan merupakan makhluk paling primitif. Karena terbatasnya sumber yang ada mengenai jenis tersebut, sukar diketahui bagaimanakah sebenarnya kedudukan Meganthropus pada evolusi manusia purba. Sebagian ahli mengatakan bahwa Meganthropus merupakan golongan Pithecanthropus atau Homo. Bahkam Weidenreich mengatakan bahwa Pithecanthropus adalah evolusi dari Meganthropus (Sartono, 1983:1935). Ada pula yang mengatakan jenis ini termasuk spesies Homo habilis, Homo paleojavanicus, Homo erectus atau Homo Sapiens erectus.

Dari penelitian perbandingan dengan fosil dari Afrika dan Eropa, Meganthropus yang hidup pada plestosen bawah dianggap sebagai pendahulu Pithecanthropus ditemukan kala plestosen tengah. Meganthropus ini mempunyai muka yang masif dengan tulang pipi tebal, tonjolan belakang kepala tajam, dan tonjolan kening mencolok. Pada rahang bawahnya  mempunyai batang yang sangat tegap dan geraham yang besar-besar. Otot kunyahnya kukuh dan tidak memiliki dagu (Soejono, 1984:67). Fosil selanjutnya ialah Pithecanthropus. Jenis fosil inilah yang paling banyak ditemukan di Jawa. Sisa-sisa fosil Pithecanthropus banyak ditemukan di daerah Perning, Kedungbrubus, Trinil, Sangiran, Sambungmacan, dan sekitar Ngandong. Ciri-ciri umumnya, memiliki tinggi badan sekitar antara 165-180 cm dengan tubuh yang tegap. Volume otak berkisar antara 750-1300 cc, mempunyai geraham besar, rahang kuat, dan tonjolan tebal pada keningnya. Wajah masih menonjol ke depan, dahinya miring ke belakang. Dan belum menyamai seperti bentuk manusia yang sekarang. Pithecanthropus mojokertensis atau Pithecanthropus robustus adalah manusia Pithecanthropus paling tua.  Namun Pithecanthropus erectus lah yang  merupakan jenis paling banyak ditemukan selama ini. Fosil dari jenis tersebut adalah temuan yang selama ini paling penting dan terkenal, di derah Trinil pada tahun 1891. Seorang ahli yang bernama Dubois, memandang Pithecanthropus sebagai mising link, yaitu manusia perantara yang menghubungkan antara kera dan evolusi manusia (Howell, 1980; Sartono, 1983).

Dari beberapa jenis Pithecanthropus, jenis yang hidup sampai pada plestosen atas adalah Pithecanthropus soloensis. Pithecanthropus soloensis lebih banyak memiliki persamaan dengan jenis Pithecanthropus dari Choukoutien yaitu Pithecanthropus pekinensis. Dari fosil yang ditemukan, Pithecanthropus soloensis ini memiliki beberapa ciri-ciri, diantaranya mempunyai volume otak antara 1000-1300 cc. Adanya perkembangan dari tingkat volume otak tersebut menunjukkan adanya kemajuan pula dalam bidang kehidupan. Manusia Pithecanthropus sudah mulai mengenal adanya komunikasi antar sesamanya, walupun terbatas. Selain itu, adanya pembagian kerja pada kedua jenis kelamin juga menunjukkan telah adanya kerjasama di antara mereka. Diperkirakan tiap kelompok manusia ini terdiri dari 20-50 orang. Dan yang terkhir hidup dari plestosen atas adalah genus Homo. Di Indonesia jenis ini diwakili oleh penemuan fosil Homo Wajakensis, ditemukan di daerah Wajak, dan penemuan beberapa tulang paha dari Trinil serta tulang tengkorak di Sangiran. Isi tengkoraknya bervariasi antara 1000-2000 cc. Memiliki tinggi badan yang lebih besar, antara 130-210 cm dan berat badan 30-150 kg (Soejono, 1984:81). Dari pernyataan-pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa evolusi manusia purba di Indonesia khususnya di Jawa memiliki beberapa tahap. Berawal dari jenis Meganthropus paleojavanicus dan Pithecanthropus mojokertensis (plestosen bawah), Pithecanthropus erectus dan Pithecanthropus soloensis (plestosen tengah-atas), serta Homo wajakensis (plestosen atas-holosen bawah).

Advertisement
Continue Reading Below