Agar Siswa Berhasil di Sekolah dan Kehidupan Nyata

Advertisement
Continue Reading Below

Antara sekolah dan kehidupan nyata itu sangat berbeda, seringkali kita jumpai ada anak yang berhasil di sekolah, berprestasi, mampu mengerjakan soal-soal sulit, memiliki kemampuan diatas rata-rata alias cerdas tetapi setelah lulus sekolah, mereka menjadi rata-rata bahkan dibawah rata-rata dan kemudian justru gagal di kehidupan nyata.

Tentu ini menjadi masalah terutama bagi guru yang mengajarkan ilmu pengetahuan terhadap anak didiknya. Ternyata, kita melupakan satu bagian dari pendidikan terhadap siswa. Satu bagian dimaksud yakni “problem solver” guna menghadapi kehidupan nyata.

Pembelajaran yang kita berikan pada umumnya hanya menyiapkan siswa untuk menguasai materi yang diajarkan sehingga yang diperhatikan dan menjadi fokus penilaian terbatas pada hasil belajar dan prestasi belajar siswa. 

Advertisement
Continue Reading Below

Siswa yang memiliki kecerdasan dan kepintaran diatas rata-rata di sekolah belum tentu mampu menjadi problem solver di kehidupan nyata, harus pandai bergaul, memimpin orang lain, berkomunikasi, berbagi dengan orang lain, bahkan mencontek guna menyempurnakan inovasi dan konsep yang sebenarnya sangat dilarang di sekolah.

Olehnya itu, guna pembelajaran berhasil di sekolah dan di kehidupan nyata maka guru mesti melengkapi siswanya dengan life dan sosial skill, problem solving skill dan semua skill yang dimiliki oleh seorang pemimpin. Hal ini sebagai bentuk menjawab dan memenuhi tuntutan realitas karena sangat berbeda dengan tuntutan kurikulum disekolah. 

Guru wajib menanamkan kemampuan leadership sehingga siswa nantinya tidak hanya menjadi pengikut tetapi benar-benar siap menjadi pemimpin. Banyak sekali keuntungan yang akan diperoleh siswa.

Pada kurikulum 2013, salah satu metode pembelajaran yang diwajibkan untuk dilaksanakan adalah metode problem based learning perlu dimaksimalkan, jangan hanya memberi masalah kepada siswa terkait contoh yang terdapat dalam materi yang diajarkan untuk diselesaikan tetapi jika perlu mengarahkan siswa untuk terlibat langsung menyelesaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan kehidupan nyata.

Selain itu, sekolah juga harus memaksimalkan peran organisasi sekolah seperti OSIS, Pramuka, PMR dan lain sebagainya dalam merangsang dan memicu karakter siswa terutama terkait dengan kepemimpinan. Bilamana ini dapat diwujudkan maka tidak akan ada lagi siswa yang memiliki prestasi diatas rata-rata, siswa yang selalu juara, dan siswa yang senantiasa mendapatkan predikat terbaik berakhir gagal di kehidupan nyata atau menjadi siswa yang berada dibawah rata-rata atau hanya sebagai pengikut.