Guru Pamong perlu memperhatikan Efikasi Mengajar bagi yang di pamongnya

Advertisement
Continue Reading Below

Efikasi mengajar merupakan variabel yang penting yang berkaitan dengan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku guru dalam menghasilkan praktik mengajar yang efi sien dan efektif.  Sebagai sebuah efikasi akademik hal tersebut sangat penting bagi mahasiswa, dan begitu juga bagi guru (Chambers & Hardy, 2005). 

Beberapa penelitian  mengungkapkan bahwa mahasiswa calon guru memiliki pengetahuan tentang materi pelajaran dan ilmu pedagogi, tetapi mereka tidak selalu memiliki kemampuan untuk menerapkan keterampilan dan mempresentasikan atau mempraktikkan pengetahuan mereka di dalam kelas. Hal tersebut menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki efikasi mengajar, yaitu tidak yakin dalam mengajar di dalam kelas (Redmon, 2007). 

Berdasarkan hasil observasi di sekolah-sekolah latihan  menunjukkan bahwa efikasi mengajar mahasiswa rendah. Hal tersebut bisa dilihat dari performa mahasiswa ketika melakukan praktik di sekolah latihan. Hasil tracer study tahun 2012  juga membuktikan bahwa jumlah lulusan calon guru dari Fakultas Ekonomi tidak bekerja sesuai dengan bidang studi yang ditekuni. 

Advertisement
Continue Reading Below

Selain itu, banyak calon guru yang meninggalkan profesinya. Salah satu alasannya adalah calon guru memiliki efikasi mengajar yang rendah ketika mereka melakukan praktek mengajar di sekolah, walaupun mereka memiliki sikap yang baik dalam mengajar dan memiliki prospek karir yang baik ketika berada di bangku kuliah.  Ada banyak faktor yang mempengaruhi efikasi mengajar calon guru, di antaranya adalah persiapan program pembelajaran  (Redmon, 2007),  pengalaman mengajar (Gurvitch and Metzler, 2009), dan sikap terhadap  profesi guru (Hoy & Miskel, 2001). 

Kent (2007) menyatakan bahwa program pembelajaran calon guru ketika di bangku perkuliahan dapat memenuhi kebutuhan efikasi mengajar. Pembelajaran merupakan suatu proses yang kompleks dan melibatkan berbagai aspek yang saling berkaitan. Aspek-aspek yang dimaksud tersebut berupa kinerja dari komponen input, sehingga dalam komponen proses bisa dilihat cara guru mengajar, motivasi siswa dalam belajar, keefektifan strategi pembelajaran, penggunaan sarana dan prasarana, dan kondisi lingkungan pembelajaran. Secara khusus, kemampuan mahasiswa calon guru dalam mengelola kelas dan memotivasi siswa sangat ditentukan oleh tujuan pembelajaran yang telah dipersiapkan. 

Redmon (2007) menemukan juga bahwa efikasi  mengajar  telah menjadi bagian dari program pembelajaran, pembelajaran, dan praktek pengalaman lapangan dalam persiapan program pembelajaran calon guru. Pengalaman mengajar adalah pengalaman yang dimiliki seseorang individu pada sekolah sebelumnya. Artinya sebagai pengalaman praktek di sekolah-sekolah sesuai dengan kurikulum dan di sinilah terlihat peranan dosen dalam memberikan arahan kepada mahasiswa. 

Menurut Allen (2003) pengalaman mengajar tersebut membantu para calon guru supaya memiliki pengetahuan dan teknik mengajar yang sangat dibutuhkan dalam pembelajaran. Gurvitch and Metzler (2009) menemukan temuah bahwa pengalaman  mengajar juga berpengaruh terhadap keyakinan dan sikap mahasiswa terhadap  profesi guru. Sikap terhadap  profesi guru merupakan penilaian positif/negatif terhadap kondisi pekerjaan sebagai guru, pengakuan, dan gaji yang diperoleh. Hal tersebut sesuai pendapat Ajzen dalam Azwar (2010) yang mendefi nisikan sikap (attitude) sebagai evaluasi kepercayaan (belief) atau perasaan positif atau negatif dari seseorang jika harus melakukan perilaku yang akan ditentukan. Artinya calon guru mempunyai kepuasan jika mereka bisa mengajar dan memberikan pengaruh yang positif terhadap siswa dan mampu membentuk perilaku dan prestasi di kelas.