Unsur Intrinsik Cerpen dan Novel √ Penjelasan Lengkap

Advertisement
Continue Reading Below
Unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik sudah tidak asing lagi bagi kita. Materi ini sudah kita ketahui saat duduk di bangku SMP sederajat.
 
Materi ini yaitu unsur intrinsik cerpen dan novel merupakan salah satu materi mata pelajaran Bahasa Indonesia Yang diajarkan di sekolah baik di tingkat SMP sederajat atau SMA sederajat.
 
Dan materi ini sering juga kita temui pada soal-soal baik soal penilaian harian (PH), Penilaian Akhir Semester (PAS) ganjil dan genap, Ujian Sekolah (US), dan Ujian Nasional (UN).
 
Berikut ini kita akan mempelajari materi khusus tentang unsur intrinsik cerpen dan novel  secara lengkap yang akan menambah wawasan kita tentang karya sastra yang ada di Indonesia.
 
Mari sama-sama kita pelajari materi ini dengan saksama dan jika ada yang belum dimengerti silakan ajukan pertanyaan di kolom komentar.
 
Unsur Intrinsik Cerpen dan Novel [Penjelasan Lengkap]
Unsur Intrinsik Cerpen dan Novel [Penjelasan Lengkap]
 

Pengertian Cerpen

Cerpen adalah hasil karya sastra yang berbentuk prosa naratif fiktif. Isi yang disajikan dalam cerpen biasa singkat dan padat serta hanya menyajikan satu konflik atau permasalahan.

Jadi Cerpen itu adalah suatu cerita yang bersifat khayalan yang ditulis oleh penulisnya. Karena bersifat khayalan maka cerita yang ditulis oleh pengarangnya bisa berupa hal yang tidak masuk akal.

Nah apakah sudah paham yang dimaksud dengan cerpen ya jadi singkat cerita bahwa cerpen itu adalah cerita pendek yang dibuat oleh pengarang atau penulisnya.

Pengertian Novel

Novel adalah karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku.

Dari pengertian novel di atas bisa kita ber singkat yaitu novel adalah sebuah karangan yang mengandung cerita kehidupan seseorang dengan menonjolkan watak dan sifatnya.

Apakah cerpen perbedaan dengan novel, ya memang cerpen dan novel mempunyai persamaan dan juga perbedaan.

Persamaannya adalah cerpen dan novel berasal dari cerita yang dibuat oleh penulis atau pengarang.

Sedangkan yang membedakan antara keduanya adalah cerpen hanya memiliki satu konflik dan ceritanya singkat. Berbeda dengan novel yang ceritanya panjang dan memiliki banyak konflik di dalam alur ceritanya.

Ciri-ciri cerpen

Adapun ciri-ciri cerpen adalah sebagai berikut:

  1. Bersifat fiktif atau rekaan yang tidak ada padanannya di kehidupan sehari-hari.
  2. Dapat dibaca hanya sekali duduk atau tidak lama. Artinya cerpen merupakan cerita pendek
  3. Konflik yang ada di dalam cerpen satu saja
  4. Alur yang dibuat oleh pengarang dalam cerpen hanya satu juga.
  5. Perwatakan yang disajikan dalam cerita sangat sederhana.
  6. Penggambaran tentang para tokoh tidak gambarkan secara lengkap.

Ciri-ciri novel

Adapun ciri-ciri novel adalah sebagai berikut:

  1. Jumlah kata di dalam novel berkisar 35.000 sampai 40.000 kata.
  2. Alur ceritanya sangat kompleks.
  3. Waktu yang dihabiskan untuk membaca tidak cukup satu kali duduk habis dibaca.
  4. Ditulis secara narasi deskriptif. Penulis berusaha menceritakan karangannya tersebut dengan teknik penggambaran seakan-akan para pembaca merasakan kejadian atau peristiwa yang dialami tokoh.

Unsur intrinsik cerpen dan novel

Unsur intrinsik yang membangun sebuah cerita pada cerpen dan novel adalah sebagai berikut:
 

Tema

Tema pada sebuah cerita merupakan unsur awal yang membangun cerita tersebut. Bisa dikatakan bahwa tema merupakan benang merah dari sebuah cerpen atau novel.
 
Lalu ada pertanyaan lagi apakah sama antara tema dengan judul?
 
Jawabannya adalah berbeda.
 
Tema merupakan sebuah ide pokok atau gagasan dalam sebuah tulisan atau karangan. Sedangkan judul adalah lebih detail untuk memberikan gambaran dalam sebuah tulisan atau karangan.
 

Watak atau Penokohan

Watak adalah sifat yang ada pada tokoh di dalam sebuah cerpen atau novel. Watak di dalam sebuah cerita biasanya ada baik dan ada yang jahat.
 
Watak dapat di ketahui dari dialog antar tokoh, tingkah laku tokoh, pandangan sikap dan gambaran langsung yang ditulis oleh pengarangnya.
 
Ada tiga jenis tokoh yang ada di dalam cerita yaitu protaginis tokoh yang berwatak baik. Tokoh ini merupakan tokoh utama dalam sebuah cerita.
 
Yang kedua antagonis tokoh ini berwatak jahat dan selalu berlawanan dengan tokoh protagonis. Biasanya sifat yang dimunculkan adalah sombong, pemarah, iri dengki, pemalas, kasar.
 
Dan yang ketiga adalah tritagonis yaitu tokoh yang berwatak penengah atau pelerai antara tokoh protagonis dengan tokoh antagonis.
 

Latar atau Setting

Latar merupakan salah satu unsur yang membangun sebuah cerita. Latar atau setting dalam sebuah cerita terbagi menjadi tiga yaitu:
 
Latar tempat adalah latar yang mengacu pada tempat kejadian. Misalnya latar istana, rumah, tempat ibadah, di pinggir sungai dan lain-lain.
 
Latar waktu adalah latar yang mengacu pada waktu kapan peristiwa cerita itu terjadi. Misalnya latar pagi hari, sore hari, jam delapan, saat ini dan lain sebagainya.
 
Latar suasana merupakan latar yang mengacu pada suasana cerita yang dibuat oleh pengarang. Misalnya suasana duka, bahagia, mencekam, dan lain-lain.
 

Alur atau plot

Alur adalah urutan jalan cerita baik di dalam cerpen maupun novel. Ada tiga jenis alur atau plot cerita yaitu:
 
Alur maju merupakan alur yang dibuat atau ditulis urutan waktu misalnya dari kecil sampai dewasa, dari anak-anak sampai tua renta, dari tahun yang dulu sampai tahun sekarang dan akan datang.
 
Alur mundur merupakan alur yang dibuat kembali ke masa yang lalu. Atau lebih mudahnya adalah alur yang menceritakan dari masa sekarang ke masa lalu.
 
Alur campuran merupakan alur yang dibuat dengan memadukan alur maju dan alur mundur. Urutan ceritanya pada alur ini dimulai masa sekarang kemudian kembali ke masa lalu dan akhirnya berlanjut menjadi cerita sampai sekarang.
 

Sudut pandang

Sudut pandang dalam bahasa Inggris point of view adalah cara penulis atau pengarang menempatkan dirinya di dalam sebuah cerita.
 
Ada empat jenis sudut pandang yang biasanya para penulis menempatkan dirinya di dalam cerita yaitu Pengarang sebagai tokoh cerita. Jenis ini pengarang bercerita tentang keseluruhan kejadian atau peristiwa yang menyangkut pada diri tokoh.
 
Yang kedua Pengarang sebagai tokoh sampingan. pengarang menceritakan kejadian yang berhubungan dengan tokoh utama tapi   pengarang sesekali menceritakan tentang dirinya sebagai pencerita.
 
Pengarang sebagai orang ketiga. Pengarang memposisikan dirinya dalam cerita sebagai pengamat dan pengarang hanya berada di luar cerita. Dan pengarang juga sekaligus sebagai narator yang menjelaskan peristiwa kejadian berlangsung.
 

Gaya bahasa

Gaya bahasa adalah cara pengarang atau menulis menulis mengolah bahasa yang ada di dalam cerita yang dikarangnya gaya bahasa yang digunakan oleh penulis bisa berupa komunikatif, mudah dipahami, atau bisa juga berbelit-belit.
 
Tentu gaya bahasa merupakan salah satu penentu keberhasilan seorang pengarang atau penulis menyampaikan ceritanya.
 
Keberhasilan sebuah cerita kata bisa dilihat dari kalimat-kalimat yang ditulis mudah dibaca, dipahami, ungkapan-ungkapan yang baru dan hidup, pemecahan permasalahan yang rumit, penuh Tantangan pengalaman-pengalaman baru yang bernuansa kemanusiaan dan sebagainya yang akhirnya membuat para pembaca terpesona.
 

Amanat

Amanat adalah pesan moral yang disampaikan oleh penulis atau pengarang kepada pembaca agar para pembaca terkesan dan membekas yang pada akhirnya mengikuti ajakan kebaikan dan menjauhi sifat-sifat buruk yang ada di dalam cerita.
 
Amanat sebaiknya tidak ditulis langsung dan ditujukan kepada pembaca. Alasannya adalah agar membaca tidak merasa diceramahi tapi sebaliknya pembaca dihadapkan pada sebuah cerita yang menarik dan menghibur tapi penuh dengan pelajaran hidup yang yang diteladani.

Demikian pembahasan tentang unsur instrinsik baik dari cerpen maupun novel dalam bahasa Indonesia. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita tentang sastra Indonesia. Terima Kasih.

 

Sumber:

Mustafa, Sadikin. 2010. Kumpulan Sastra Indonesia. Jakarta. Gudang Ilmu.

Suharso & Ana, R. 2013. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Lux, Cetakan kesebelas. Semarang: Widya Karya.

Darmawati, U., & Artati, Y. B. 2016. Bahasa Indonesia: Mata Pelajaran Wajib. Klaten: Intan Pariwara. 

Advertisement
Continue Reading Below