Memahami Teori Pembelajaran Cara Belajar Siswa Aktif dan Kreatif (CBSAK)

Advertisement
Continue Reading Below
Jika dibagi prinsip pembelajaran dapat dibedakan menjadi dua bagain, pertama prinsip pembelajaran universal (umum), dan kedua prinsip Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Prinsip berasal (dari kata principia) berarti permulaan, titik awal yang darinya lahir hal-hal tertentu. Prinsip dapat juga diartikan asas atau kebenaran yang menjadi pokok dasar berpikir dan bertindak. 
Sedangkan pembelajaran pada hakikatnya merupakan proses komunikasi transaksional yang bersifat timbal balik, baik antara guru dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan seperti dikutip dari Jurnal Tarbawi, Volume 1, No 2, ISSN 2527-4082 (Abd. Rachman Bakhtiar). 
Seterusnya, menurut Abd. Rachman, komunikasi transaksional menunjukkan adanya perolehan, penguasaan, hasil, proses atau fungsi belajar bagi peserta didik. Dengan demikian, berbicara tentang prinsip pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) berarti berbicara tentang asas yang mendasari pelaksanaan pembelajaran PAI. Menurut Al-Nahlawi dalam Abdul Rachman (Jurnal Tarbawi, Vol, 1 No. 2) menyebutkan, ajaran Islam mempunyai prinsip dasar yang dapat dijadikan landasan dalam aktivitas pembelajaran, yaitu bahwa manusia adalah makhluk AllahSWT dan berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Walaupun tujuannya begitu ideal, namun selama ini pembelajaran PAI, sekaligus guru PAI, di sekolah sering dianggap kurang berhasil dalam mengembangkan sikap dan perilaku keberagamaan peserta didik (Abd. Rachman, Jurnal, Tarbawi, Vol 1 No. 2). 
Dalam prinsip pembelajaran universal, maka dalam teori pembelajaran CBSAK (Cara Belajar Siswa Aktif dan Kreatif) dapat dijelaskan bahwa, teori ini lahir dari perenungan, pemikiran dan penelusuran dari teori-teori yang sudah ada. Setelah dilakukan penilaian dan mengkaji teori pembelajaran yang ada, maka paling tidak memiliki pembeda dari teori yang lain. 
Melalui teori pembelajaran CBSAK ini, diharapkan memiliki hasil yang berbeda dengan teori-teori pembelajaran yang ada saat ini. Sebab, teori CBSAK ini jauh berbeda dengan teori-teroi pembelajaran lainnya, terutama dalam bentuk rumusan dan pengertiannya yang hanya berupa singakatan huruf awal atau akronim. 
Namun demikian, akronim ini memiliki makna yang mendalam dan memiliki filosofi tersendiri. Karena itu, diharapkan melalui teori pembelajaran CBSAK ini akan memberikan warna positif dalam pelaksanan pembelajaran, khususnya pada tingkat pendidikan lanjutan seperti Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Umum (SMU), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan bahkan pada PT (Perguruan Tinggi). 
Selain itu, teori ini mungkin juga dapat diaplikasikasikan pada tingkat SD, terutama pada anak-anak kelas 5 (lima) dan kelas 6 (enam). Teori CBSAK dirumuskan sebagai alternatif untuk menghilangkan kemungkinan kemonotonan, dan kejenuhan dalam pembelajaran yang dilaksanakan guru dan yang diterima oleh anak didik dalam proses belajar dan mengajar di sekolah. 
Dengan kata lain, diharapkan melalui kajian ini dapat digunakan sebagai solusi terhadap kebuntuan teori pembelajaran yang lainnya, yang mungkin tengah (sedang) dan sudah dilaksanakan para pengajar sejak masa lampau hingga hari ini.
Dengan lain perkataan, melalui teori CBSAK, guru, pengajar, dosen hanya sebagai pasilitator dalam penyelenggaraan belajar dan pembelajaran. Apa yang harus dilakukan guru dalam teori CBSAK? Yang mesti dilakukan oleh seorang guru, sebelum mengajar adalah: 
  • Langkah pertama, persiapan guru untuk memberikan pemahaman, cara-cara dalam melaksanakan CBSAK satu minggu sebelum dipraktikkan oleh sisiwa, 
  • Langkah kedua,guru menyampaikan dan menetapkan topik pembahasan yang akan diajarkan ketika masuk kelas dan menjelaskan secara garis besarnya saja, 
  • Langkah ketiga, guru membagi siswa dalam beberapa kelompok sesuai dengan kebutuhan, 
  • Langkah keempat, siswa dipersilahkan untuk melakukan diskusi dengan kawankawannya satu kelas, 
  • Langkah kelima, guru hanya sebagai pengamat dan fasilator serta meluruskan jalannya diskusi, Langkah keenam, siswa dipersilahkan menyimpulkan topik yang sudah mereka bahas. 

Berdasarkan penjelasan dan langkah langkah tersebut, maka yang aktif dalam kegiatan belajar dan mengajar adalah siswa, bukan guru. Dengan kata lain, melalui aktifitas dan kreatifitas anak didik dalam proses belajar di kelas, akan memberikan dampak positif terhadap penyerapan bahan ajar dan pelajaran yang disajikan pada saat itu. 
Memang, teori ini kelihatan agak sedikit rumit, tetapi yang terpenting adalah keluaran atau hasil yang diharapkan dari metode pembelajaran ini.
Selanjutnya, untuk memudahkan dalam mengaplikasi teori CBSAK ini, maka dapat digunakan panduan atau langkah-langkah di bawah ini. Adapun langkah-langkah atau cara-cara yang dapat dilakukan dalam mengaflikasikan teori pembelajaran CBSAK dapat dipedomani tahapan dan proses seperti ini: 
  1. Satu minggu atau beberapa hari sebelum melaksanakan teori ini, maka guru membagi siswa dalam beberapa kelompok diskusi sesuai dengan kebutuhan. 
  2. Guru menjelaskan materi yang akan diajarkan (diskusikan) siswa pada satu pekan ke depan.
  3. Siswa mendengarkan dengan seksama penjelasan dari guru tentang topik yang akan dipelajari. 
  4. Guru menunjuk atau menetapkan satu kelompok untuk menyajikan materi diskusi dalam bentuk makalah. 
  5. Guru menetapkan kelompok mana yang harus tampil pertama dan seterusnya sehingga semua kelompok dapat tampil bergiliran sebagai pemakalah dengan topik yang berbeda. 
  6. Setelah kelompok penyaji selesai menyampaikan makalah, maka dilanjutkan dengan diskusi terhadap materi yang telah dipresentasikan. Semua kelompok yang ada di dalam kelas harus aktif dan proaktif. 
  7. Setelah diskusi usai, maka kelompok penyaji dapat membuat kesimpulan dari materi yang disajikan. 
  8. Kelompok lainnya yang bukan penyaji makalah juga membuat kesimpulan dari hasil diskusi sehingga dapat memperkaya makalah kelompok penyaji. Sebab, dari saran dan pendapat kelompok bukan penyanji (audien) akan dapat memperkaya pengetahuan dan menjadi masukan bagi kekurangan kelompok penyaji makalah. 
  9. Setelah diskusi kelompok, maka siswa akan menghasilkan pokok-pokok fikiran yang dianggap benar oleh masingmasing kelompok tentang materi yang diajarkan 
  10. Masing-masing hasil diskusi kelompok diadu tingkat akurasi hasil diskusi mereka dalam membahas topik yang sudah ditentukan 
  11. Jika terjadi silang pendapat dari hasil diskusi yang ada pada masing-masing kelompok, maka guru baru tampil untuk leuruskan pendapat siswa yang berbeda atau tidak sesuai dengan yang dikehendaki dari diskusi yang dimaksudkan 
  12. Terhadap semua yang timbul dari diskusi, baik kesimpulan yang benar maupun terhadap kesimpulan yang salah, maka peran guru dapat melakukan review terhadap materi diskusi yang sudah dilaksanakan. 
  13. Terakhir, guru dapat memberikan pengayaan terhadap materi diskusi yang dilakukan siswa

Advertisement
Continue Reading Below