Pengaruh Model Pembelajaran Learning Cycle 5E (LC5E) terhadap proses dan hasil belajar siswa

Advertisement
Continue Reading Below

Model pembelajaran yang berorientasi pada proses dan hasil belajar saat ini telah banyak berkembang. Salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif, diantaranya Course Review Horay. Model pembelajaran ini bertujuan agar siswa mempunyai jiwa kemandirian dalam belajar, menumbuhkan daya kreatif, serta menumbuhkan keaktifan siswa dalam mengungkapkan pendapat dan bekerjasama, tidak hanya mendengar, membaca, dan menulis apa yang disampaikan guru dalam pembelajaran. 

Menurut Rahimah dan Maizora (2014) menjelaskan bahwa Course Review Horay adalah model pembelajaran yang dapat meningkatkan aktifitas siswa, meningkatkan respon siswa, dan meningkatkan hasil belajar siswa. Model ini merupakan model pembelajaran dengan pengujian pemahaman siswa menggunakan kotak yang berisi nomor untuk menuliskan jawabannya. Siswa yang lebih dulu mendapatkan tanda atau jawaban benar langsung berteriak “horay” atau yel-yel yang telah dipersiapkan sebelumnya. 

Selain model pembelajaran koopertif Course Review Horay, model pembelajaran yang dapat digunakan adalah model pembelajaran Learning Cycle 5E. Model ini dapat meningkatkan minat siswa, dengan harapan memuaskan siswa, terdiri dari keterampilan penelitian aktif dan kegiatan yang diperlukan untuk pengetahuan dan pemahaman (Ergin, Ünsal dan Tan, 2006). 

Advertisement
Continue Reading Below

Menurut Tuna dan Kaçar (2013) menjelaskan bahwa Learning Cycle 5E adalah model siklus 5E yang tidak hanya berakibat kepada prestasi siswa tetapi juga pengetahuan permanen mereka. Perbedaan signifikan secara statistik ditentukan antara skor siswa eksperimental dan kelompok kontrol dalam post-test. Dengan analisis temuan, ketika skor post-test diambil menjadi pertimbangan, siswa di kelompok eksperimen, dimana model pembelajaran 5E berdasarkan pendekatan konstruktivis yang digunakan, ditemukan lebih sukses dibandingkan dengan kelompok kontrol. Perbedaan signifikan secara statistik ditentukan antara skor dalam tes permanen siswa eksperimental dan kelompok kontrol. Ditentukan bahwa perbedaan ini adalah mendukung kelompok eksperimen. 

Model LC5E memotivasi siswa untuk dimasukkan ke dalam topik dengan beberapa tahap belajar, mengeksplorasi subjek, diberikan definisi untuk pengalaman mereka, mendapatkan informasi lebih rinci tentang mereka belajar dan mengevaluasinya (Wilder dan Shuttleworth, 2005). Menurut Bybee (2006) model pembelajaran ini terdiri dari lima tahap kegiatan, diantaranya yaitu: engage (mengajak), explore (menyelidiki), explain (menjelaskan), elaborate (memperluas), evaluate (menilai). 

Model pembelajaran Learning Cycle 5E menekankan siswa untuk dapat mengkonstruksi sendiri pemikirannya sehingga pemahamannya siswa akan konsep yang diajarkan oleh siswa dengan cara olah fikir kognitifnya sendiri. Setiap tahapan dalam Learning Cycle 5E ini menuntut siswa untuk aktif dalam pembelajaran terutama untuk mengungkapkan ide-ide matematisnya baik secara lisan maupun tulisan. 

Guru memiliki peran sebagai agen modernasasi di bidang pendidikan dan bekerja untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan memiliki inovasi dalam pembelajaran yang salah satunya dengan menggunakan media pembelajaran (Buchori, Sutrisno dan Rahmawati, 2014). 

Multimedia interaktif salah satu alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa, dan untuk menarik perhatian siswa agar lebih menyenangi proses pembelajaran dengan baik dan dengan suasana hati yang senang, karena didalam multimedia interaktif terdapat kombinasi teks, warna, animasi, audio dan video yang dapat membuat proses pembelajaran menjadi lebih menarik. 

Menurut Tiurma dan Retnawati (2014) menyatakan bahwa siswa pada kelompok tanpa menggunakan multimedia tidak mempunyai presentase sebaik pada kelompok yang menggunakan multimedia. Sedangkan menurut Burhanudin (2012) menyatakan bahwa analisis keefektifian multimedia menunjukkan 80% memenuhi kriteria ketuntasan pembelajaran sedangkan analisis keefektifan dan interaktifitas 86,73% menunjukkan respon siswa yang positif sehingga multimedia interaktif ini cukup layak untuk membantu siswa dalam belajar.