10 Prinsip Pembelajaran di TK dan PAUD

Advertisement
Continue Reading Below
Pembelajaran  pada  anak  usia  dini  termasuk  Taman  Kanak-Kanak  memiliki  kekhasan  tersendiri.  Kegiatan  pembelajaran  di  Taman  Kanak-Kanak  mengutamakan  bermain  sambil  belajar  dan  belajar  sambil bermain. Secara alamiah, bermain memotivasi anak  untuk  mengetahui  sesuatu  lebih  mendalam,  dan  secara  spontan  anak  dapat  mengembangkan  kemampuannya.  Seperti  hasil  penelitian  yang  dilakukan  Holis  (2016),  dimana  kegiatan  belajar  melalui  bermain  balok  unit  berpengaruh  terhadap  pengembangan kreativitas dan kognitif anak usia dini. Berdasarkan  hal  tersebut,  tentu  disadari  bahwa menyajikan pembelajaran di TK tidaklah sama dengan  pembelajaran  pada  kelompok  usia  lainnya.
Pembelajaran di TK dilakukan dengan memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran, yaitu 1). berorientasi pada kegiatan  bermain;  2).  berorientasi  pada  kebutuhan   anak;  3).  sesuai  dengan  perkembangan  anak;  4).  menempatkan  anak  pada  subjek;  5).  menggunakan  pendekatan  tematik,  6).  pembelajaran  yang  aktif,  kreatif,  efektif,  dan  menyenangkan  (PAKEM);  7).  mengembangkan  kecakapan  hidup;  8).  lingkungan  yang  kondusif;  9).  pembelajaran  yang  demokratis;  dan 10). pembelajaran yang bermakna (Aqib, 2009). 
Pelaksanaan  prinsip-prinsip  pembelajaran  tersebut  tentunya  akan  memberikan  dampak  positif  pada  perkembangan anak. 
Prinsip  pertama,  yaitu  pembelajaran  yang  berorientasi  pada  kegiatan  bermain  dapat  meningkatkan  berbagai  aspek  perkembangan  anak. Hal  ini  dapat  diketahui  dari  hasil  penelitian  Pratiwi  (2017), dimana aspek perkembangan motorik, sosial, emosional, dan bahasa anak akan berkembang, jika dalam kegiatan main anak usia dini didukung oleh tiga jenis main yaitu: main sensorimotor, main peran, main konstruktif. 
Adanya kegiatan bermain yang diberikan kepada  anak  juga  tentunya  membuktikan  bahwa  pembelajaran  tersebut  berorientasi  pada  kebutuhan  anak,  dimana  kebutuhan  anak  yang  utama  adalah  bermain.  Seperti  yang  dikatakan  Rohmah  (2016),  bermain merupakan hak dan kebutuhan setiap anak. 
Pembelajaran  yang  efektif  juga  akan  tercipta  apabila  pembelajaran  diberikan  berdasarkan  prinsip  sesuai kebutuhan dan perkembangan anak. Samiudin (2017)  menemukan  bahwa  cara  pembelajaran  yang  akan dipergunakan sebaiknya menyesuaikan dengan kondisi/  tingkatan  yang  ada  pada  anak  agar  anak  dengan  mudah  memahami  materi  yang  diberikan.  
Hal  ini  juga  didasarkan  pada  teori  kognitif  dimana  Jean Piaget menyatakan bahwa anak usia prasekolah berada pada tahap berpikir praoperasional. Berbagai stimulasi yang diberikan harus disertai dengan media konkrit agar memudahkan pemahaman anak.
Pendekatan  tematik  merupakan  salah  satu prinsip yang juga harus diperhatikan dalam memberikan pembelajaran  bagi  anak  usia  dini.  Pendekatan  tematik  merupakan  salah  satu  pendekatan  yang digunakan  dalam  kurikulum  2013.  Dalam  model  pembelajaran  tematik  terpadu  di  PAUD,  kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk satu tema, sub tema, atau sub-sub tema dirancang untuk mencapai secara bersama-sama  kompetensi  sikap,  pengetahuan, dan  keterampilan  dengan  mencakup  sebagian  atau  seluruh aspek pengembangan. Joni (2009) menuliskan bahwa pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar secara aktif dalam  proses  pembelajaran,  sehingga  siswa  dapat  memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya.
Selain  pendekatan  tematik,  pembelajaran  untuk anak usia dini juga menggunakan pendekatan PAKEM  (pembelajaran  aktif,  kreatif,  efektif,  dan  menyenangkan). Keterlaksanaan pendekatan ini dapat meningkatkan kemampuan anak. Hal ini diketahui dari hasil penelitian Rohaniawati (2016), yaitu menuliskan bahwa hasil analisis keterampilan berpikir mahasiswa pada mata kuliah Pengembangan Kepribadian Guru dengan menggunakan pendekatan PAKEM diketahui hampir  meningkat  pada  setiap  pertemuannya.  Hasil  aktivitas mahasiswa pada siklus 1 sebesar 91%, pada siklus  2  mencapai  100%  begitu  juga  pada  siklus  3  mencapai 100%. 
Kecakapan hidup, yang dapat dimaknai sebagai kemampuan seseorang untuk berjuang berani hidup (survival) harus juga diperhatikan dalam menyajikan pembelajaran kepada anak. Pengenalan pendidikan kecakapan hidup (life skills) pada dasarnya merupakan upaya  untuk  memperkecil  perbedaan  (gap)  antara  dunia pendidikan dengan kehidupan nyata sehingga pendidikan akan lebih realistis dan lebih konstektual dengan nilai-nilai kehidupan nyata sehari-hari (Noor, 2015).  
Hal  senada  juga  disampaikan  Suprihatin  &  Dewi (2018), bahwa life skill education is an education that provides basic supplies and training to learners about the values of life needed and useful for the development of everyday life. 
Prinsip  lain  yang  juga  harus  dilakukan  agar  tercipta  pembelajaran  efektif  adalah  menciptakan  lingkungan yang kondusif. Lingkungan yang kondusif dapat  dimaknai  dengan  tersedianya  sumber  belajar  yang dapat mendukung pembelajaran anak, terutama sumber  belajar  yang  berasal  atau  yang  tersedia  di  
lingkungan. Choiri (2017) menuliskan bahwa sumber belajar lingkungan ini akan menambah wawasan dan pengetahuan anak karena mereka mengalami secara langsung  dan  dapat  mengoptimalkan  potensi  panca  inderanya  untuk  berkomunikasi  dengan  lingkungan  tersebut.    Terkait  dengan  lingkungan  yang  kondusif,  kemampuan  guru  menciptakan  kelas  yang  kondusif  juga  dapat  menghindari  siswa  dari  kejenuhan,  kebosanan dan kelelahan psikis sedangkan disisi lain kelas yang kondusif akan dapat menumbuhkan minat motivasi dan daya tahan belajar. (Arianti, 2017) Lingkungan yang kondusif dapat menciptakan pembelajaran  yang  bermakna.  
Hidayati  (2016)  menuliskan  bahwa  kegiatan  pembelajaran  akan  bermakna,    jika  dilakukan  dalam  lingkungan  yang  nyaman, memberikan rasa aman, bersifat kontekstual, anak mengalami langsung sesuatu yang dipelajarinya. Terkait  pembelajaran  bermakna,  Berry  (2012)  menjelaskan  “ it is learning with a purpose, learning which allows those who engage in it to attach more meaning to the world around them, learning in which things  make  more  sense”.  Di  dalam  penelitiannya  yang  berjudul  pengaruh  penerapan  pembelajaran  bermakna (meaningfull learning) pada pembelajaran tematik  IPS  terpadu  terhadap  hasil  belajar  siswa  kelas III di MI Ahliyah IV Palembang, Najib & Elhefni (2016)  menemukan  bahwa  terdapat  pengaruh  yang  signifikan  penggunaan  pembelajaran  bermakna  (meaningfull  learning)  terhadap  hasil  belajar  siswa, sehingga dikatakan pembelajaran bermakna (meaningfull  learning)  dapat  meningkatkan  hasil  belajar siswa di MI Ahliyah IV Palembang.
Pembelajaran  di  TK  juga  harus  bersifat  demokratis.    Anak  harus  diajarkan  untuk  menjadi  warga  Negara  yang  baik  yang  dapat  menghargai  dan menghormati oranglain. Lovat & Toomey (2009) menuliskan “The concept of democracy must be the basis to prepare for the responsibilities of citizenship. Democracy and related notions should be both content and method in the pre-school. In this sense, democracy becomes an object of learning as well as informing the act of learning. This implies that children have to both think about democracy and experience democracy in pre-school” (OECD, 2006).
Pelaksanaan  prinsip-prinsip  pembelajaran  tersebut  tentu  ditujukan  agar  pembelajaran  yang  diberikan  kepada  anak  usia  dini  dapat  memberikan  hasil  sesuai  dengan  tujuan  yang  diharapkan  yaitu  mendukung  perkembangan  anak  secara  optimal.  
“Curricula that are in accordance with the guidelines must contain activities that stimulate children’s development so that they are ready to continue their education to a higher level of education. It is not only a fun set of activities that make children busy but it is an activity that has the purpose of helping children develop their skills and knowledge” (NAEYC and  NAECS  /  SDE  dalam  Rohita  &  Sekarlawu 2018). 
Untuk itu diperlukan kemampuan guru dalam merancang pembelajaran yang tertuang dalam rencana pelaksanaan pembelajaran harian. Hal lain yang juga  diperlukan adalah kemampuan guru dalam melakukan penilaian  pembelajaran,  dimana  hasil  penilaian tersebut  menjadi  bahan  evaluasi  guru  mengenai  ketercapaian tujuan pembelajaran. 
Pengelolaan kelas juga  diperlukan  agar  anak  didik  dapat  berkegiatan  dengan aman, nyaman, dan menyenangkan yang pada akhirnya mendukung proses pemahaman anak pada materi yang disampaikan. Terkait materi, guru harus memiliki pengetahuan yang mumpuni mengenai materi tersebut dan kemampuan dalam menyampaikannya. 
Akan  tetapi  tidak  semua  guru  mampu  menciptakan pembelajaran yang efektif. Guru belum menerapkan pembelajaran tematik di sekolah terlihat pada rencana pembelajaran yang dibuat tidak sesuai dengan  kegiatan  pembelajaran  yang  dilakukan  oleh  guru. Terjadinya hal tersebut salah satunya disebabkan oleh  pemahaman  guru  mengenai  kurikulum  dan  pengalaman mengajar guru (Sari, Risyak & Sasmiati, 2015). 
Advertisement
Continue Reading Below