Kerajaan Nasional di Inggris

Advertisement
Continue Reading Below

 pernikahan kerajaan inggris 20180519 092331

Nasionalisme Inggris tumbuh sejalan dengan pertentangan antara kaum bangsawan (Inggris) dan Raja Inggris (asal Perancis). Terjadi perang 100 tahun antara tahun 1337-1453 antara Raja Perancis melawan Vasalnya (raja Inggris) berakhir dengan lenyapnya daerah raja Inggris di Perancis. Era baru Inggris terjadi pada masa raya Henry VII Tudor. Ia Raja yang dapat memahami dan menghayati aspirasi rakyat Inggris. Keturunannya yaitu Henry VIII dan Elizabeth I dapat membawa Inggris pada suatu kedudukan yang sama dengan negera Eropa lainnya. Dalam perang armada tahun 1588 melawan Spanyol, Inggris bersekutu dengan Belanda dan unggul. Sejak itu kekuasaan maritim Inggris terus berkembang.

Inggris adalah negara bagian terbesar dan terpadat penduduknya dari negara-negara bagian yang membentuk Persatuan Kerajaan Britania Raya dan Irlandia Utara ( United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland ). Berikut ini akan dijelaskan mengenai terbentuknya bangsa inggris (zaman kelt dan zamananglo-saxon dan anglo perancis).

1. Zaman Anglo Saxona.

a.    Suku-Suku Iberia dan Suku-Suku Kelt

Kepulauan Britania sudah dihuni manusia ribuan tahun sebelum tarikh Masehi. Penduduk yang dominan pada zaman purba ini ialah mereka yang berambut kehitam-hitaman sehingga untuk mudahnya mereka sering disebut orang-orang Iberia. Di kepulauan Britanian itu orang-orang Iberia melalui berbagai tingkat peradaban dari zaman batu sampai ke zaman logam. Dari abad ke-7 SM sampai abad ke-3 SM, suku-suku bangsa Kelt yang mula-mula mendiami Jerman barat-laut dan negeri Belanda bergerak melintasi benua Eropake segala penjuru. Sebagian dari suku ini menyebrabgi lautan dan menyerbukepulauan Britania secara bergelombang. Orang-orang Iberia yang mendiami kepulauan itu sebagian ditundukkan atau dimusnahkan dan sebagian melarikan diri kedaerah-daerah pegunungan di sebelah barat dan utara. Hubungan antara orang-orang Kelt dan orang-orang Iberia di Kepulauan Britania mula-mula aialah hubungan antara yang menaklukan dan yang ditaklukan, tetapi keduanya lama kelamaan bercampur. Dareah-daerah Inggris selatan dan tenggara merupakan tempat-tempat dimana orang-orang Kelt mencapai tingkat kehidupan ekonomi dan kebudayaan yang tertinggi.

b.    Inggris  di bawah kekuasaan Roma

Tahun 55 dan 54 SM balatentara Roma menyerbu Inggris. Tetapi penyerbuanitu belum berakibat dikuasainya Inggris oleh Roma, karena bala tentara itu segeraditarik kembali. Kemudian tahun 43 M Roma melakukan penyerbuan lagi danmengalami kemenangan. Cara tentara Roma untuk menjaga dan tetap menguasai wilayah-wilayah yang telah ditaklukannya ialah dengan membangun jaringan jalan raya yang mrnghubungkan sistem perbentangan yang masing-masing dijaga tentara reguler. Salah satu pengaruh Roma yang terpenting terhadap orang-orang Kelt ialah agama Kristen yang masuk ke Inggris pada abad ke-4. Ketika seratus tahun kemudian bala tentara serta pejabat-pejabat Roma ditarik kembali ke Roma dan peradaban Romadi Inggris dilanda kemusnahan, maka yang tetap tegak antara sisa-sisa peninggalanRoma ialah agama Kristen diantara suku-suku Kelt.

 

c.    Penyebaran Agama Kristen di Inggris

Agama Kristen masuk di kalangan orang-orang Anglo-Saxon menjelang akhir abad ke-6 dari dua jurusan, yaitu dari selatan dan utara. Penyebaran agama Kristendari selatan mulai dengan  mendaratnya  Agustinus  dari  Roma dengan 40  pengikutnya di daerah Kent. Orang-orang Wales membantu mengkristenkan orang-orang Aglo-Saxon melalui seorang rohaniawan yang bernama Patricius. Pada abad ke-5 ia mengkristenkan Irlandia bernama Columba menyebarkan agama di Skotlandia barat, dan di daerah ini agama Kristen masuk ke Northumbria melalui seorang misionaris bernama Aidan. Agama Kristen yang disebarkan oleh Aidan itu dalam beberapa hal berbeda dari agama Kristen yang dibawa oleh Agustinus. Keunggulan Gereja Roma di seluruh Inggris ini memungkinkan sentralisasi dan kesatuan dalam sistem serta tujuan dalam urusan kegerejaan Inggris. Pengaruh baik yang disebarkan oleh Gereja tidak saja terasa dalam urusan kenegaraan tetapi juga dalam bidang kebudayaan pada umumnya. Penegetahuan dan kesennian berkembang berkat pengaruh Gereja, terutama kesusasteraan, musik dan arsitektur. Kesusasteraan Anglo-Saxon yang sebelumnya hanya berbentuk lisan, mulai dituliskanoleh para rokhaniwan sehingga sebagian masih dapat tersimapan sampai sekarang.

d.    Serbuan Orang-orang Skandinavia

Menjelang akhir abad ke-8, Inggris mendapat serangan-serangan pertama dari orang-orang Viking. Pada pertengahan abad ke-9, Inggris bagian utara dan timur hampir seluruhnya sudah dikuasai oleh orang-orang Skandinavia. Mereka kemudianmulai mengarahkan serangan-serangan mereka ke Wessek. Tetapi untunglah Wessek waktu itu memiliki seorang tokoh besar yangmampu menghadapi serangan-serangan Viking, ialah raja Alfred (871-899). Setelah tujuh tahun berperang, ia berhasil mengalahkan bangsa Viking dan memaksa mereka menerima perjanjian Wedmore pada tahun 878. Berkat usaha-usaha Alfred, maka putranya yang kemudian menggantikannya,yaitu Edward the Elder, sudah merasa cukup kuat untuk berusaha merebut kembalidaerah-daerah Danelaw. Dengan demikian maka persatuan bangsa Inggris merupakanhasil positif yang tumbuh dari kesengsaraan yang ditimbulkan oleh peperanganmelawan orang-orang Viking.

e.    Feodalisme Tumbuh di Inggris

Sistem ini mulai tampak bentuknya kira-kira dalam abad ke-10 dan mencapai kejayaanya pada dua abad berikutnya. Feodalisme bukanlah hasil   perancanaan, melainkan feodalisme yakni tumbuh dari keadaan setempat. Inggris diperintah oleh seorang raja dan penyatuan seluruh Inggris terlaksana dibawah raja Edgar (959-975). Kata  feodalisme sesungguhnya berdasarkan kata feudum atau tanah titipan. Dan memang sebagian besar negara waktu itu diatur menurut azas feodalisme. Pun dalam tata mayarakat, prinsip yang mennjadi  lazim  ialah bahwa setiap orang  memiliki seorang  tuan (lord)´yang wajib ia layani dan dari siapa ia memperoleh perlindungan, peradilan, dan jaminan penghidupan. Hubungan  pribadi antara bawahan dan atasan merupakan tali pengikat yang mempersatukan seluruh masyarakat, bahkan seluruh negara.

2. Zaman Anglo -Perancisa.

a. Pemerintahan Edward The Confessor dan Penaklukan oleh Normadia

Di atas telah dikemukaan bahwa para pengganti Canute tidak mampu mempertahankan konfederasi Anglo-Denmark, sehingga Inggris berdiri sendiri lagi di bawah seorang raja keturunan Alfred the Wessek, yaitu Edward the Confessor. Juga telah dikatakan bahwa hubungan Inggris dengan Denmark semakin jauh karena raja baru itu telah berorientasi kepada Prancis. Maka tatkala Edward menduduki tahta Inggris, ia mengangkat orang-orang Normandia dalam kedudukan-kedudukan tinggi baik di lingkungan Gereja maupun dalam pemerintahan. Pada tahun1066 raja yang saleh dan lemah itu meninggal dengan mewariskan tahta yang menjadi bahan sengketa karena konsep kesucian  yang ia pegang teguhtidak memungkinkan untuk memiliki keturunan. Maka sesudah Edward meninggal tanpa mempunyai keturunan yang dipilih oleh Witan sebagai penggantinya ialah Harold, putra Godwin, Earl of Wessek. Namun pengangkatan Harold ini ditentangoleh Harald Hadrada, raja Norwegia dan William, Duke of Normandy, yang masing-masing seperti juga Harold masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan Edwardteh Confessor, dan karenanya merasa berhak juga atas tahta Inggris. Menjelang akhir  bulan September 1066 pasukan Norwegia mendarat dibagian utara Inggris, namudapat dikalahkan oleh Harold. Beberapa minggu sesudah Harold berhasilmengalahkan pasukan-pasukan Norwegia, ia sendiri dikalahkan dan terbunuh oleh pasukan Willian dari Normandia di suatu tempat di Inggris selatan yang bernama Hastings.

b. Akibat Penaklukan oleh Normandia

Sesuai dengan namanya, maka daerah Prancis yang disebut Norman dia sesungguhnya dikuasai oleh keturunan orang-orang Skandinavia. Orang-orang Normandia itu tidak berusaha mempertahankan kebudayaan asli mereka, tetapi bahkan menanggalkannya dan mengadopsi kebudayaan Prancis. Dalam segi politik, feodalisme Normandia lebih ketat daripada feodalisme Anglo-Saxon. Williammenjadi Raja Inggris setelah kemenangannya di Hastings. Dengan pemerintahannya, William telah mencergah timbulnya anarki yang merupakan bahaya yang selalu mengancam dalam sistem feodal, dan memulai pertumbuhan birokrasi kerajaan yang efektif. William tidak saja mengadakan perubahan-perubahan dalam sistem pemerintahan, tetapi juga di bidang keagamaan, salah satunya yaitu pemisahan antara peradilan Gereja dan peradilan sekuler. Salah satu akibat penaklukan oleh Norman dia yang tidak kalah pentingnya ialah yang mnyangkut bahasa Inggris.

c. Raja-Raja Anglo-Norman

Sesudah William I atau William the Conqueror (si Penakluk) yang meninggal tahun1087 telah mewariskan suatu monarki serta suatu kerajaan yang cukup mantap berkat perpaduan tiga cara pengendalian, ialah melalui sistem feodal, administrasi pusat, dan pemerintahan daerah. Garis Normandia dilanjutkan oleh William Rufus atau William II (1087-1100), putera tertua William I. Di bawah pemerintahan William II terjadi sengketa antara raja dan Gereja. Penyebab pokok berkisar sekitar kekuasaan dan kekayaan duniawai yang dimiliki gereja dan cenderung menimbulkan rasa cemas dan iri di kalangan sekuler, dan konflik tersebut masih berlanjut tatkala William Rufus meninggal dan digantika oleh adiknya, yaitu Henry (1100-1135). Pada masa pemerintahan Henry suasana semakin membaik. Namun setelah kematian Henry I dan digantikan oleh Stephen of Bloissuasana menjadi semakin memburuk dan terjadi anarki dan kesewenang-wenangandan berlangsung teus sampai meninggalnya Stephen tahun1154 yang kemudiandigantikan oleh Henry II.

d. Pertumbuhan Kota-Kota

Tatkala perdagangan di Eropa Barat mengalami kemunduran sesudah runtuhnya kekaisaran Roma, ikut mundur pulalah kota-kota yang ada di bagian benua itu. Keadaan di Eropa barat sesudah runtuhnya kekaisaran Roma itu tidak memungkinkan bagi kegiatan perdagangan. Keadaan tersebut berubah berangsur-angsur dalam abad ke-11dan12 tatkala keamanan di Eropa barat mulai membaik. Dengan hidupnya kembali perdangan itu, bangkit pulalah pusat-pusat kegiatan usaha dan perdagangan yang dinamakan kota. Lambat laun kota-kota itu menginginkan kebebasan yang lebih besar denganhak-hak sendiri. Keinginan tersebut kemudian dapat terkabul sesudah kota-kota itu memperoleh piagam (charter) dari raja dengan cara membeli. Hidupnya kembali perdagangan yang mengakibatkan tumbuhnya kota-kota, berakibat pula pada peranan uang dalam masyarakat. Selain itu, pertumbuhan kota-kota meningkatkan dinamika masyarakat, karena penghunu-penghuni kota lebih bersifat terbuka terhadap hal-hal baru.

e. Pemerintahan Henry II (154-1189)

Pada waktu Henry II dinobatkan sebagai raja, ia sebagai Count of Anjou telahmenguasai daerah-daerah luas di Prancis yang meliputi lebih dari separuh negeri itu. Henry II memiliki sifat-sifat kepemimpinan dan dinamika yang memadai. Syarat lainyang harus dipenuhi untuk dapat menguasai daerah-daerah seluas itu ialah suatu aparat permanen yang benar-benar efektif.Suatu paradox dalam sejarah bangsa Inggris, yaitu bahwa kebijaksanaan-kebijaksanaan yang menumbuhkan kelembagaan yang khas Inggris justru diciptakanoleh tokoh-tokoh yang sesungguhnya termasuk orang asing di Inggris. Melalui hukum, Henry II telah berhasil memperkuat pemerintahan kerajaan, suatu hal yang sangat diinginkan golongan-golongan menengah dan bawahan waktu itu. Henry II berhasil mencegah anarki dalam kerajaannya, namun sebaliknya ia gagal mencegah dalam keluarganya sendiri. Kedua puteranya memberontak terhadapnya pada tahun1188 dengan bantuan raja Prancis.

f. Perang Salib

Perang Salib dimulai tahun1096 dan secara terputus-putus berlangsung selama dua abad. Perang ini mula-mula bertujuan utama merebut kembali Jerussalem dari tangan pemeluk-pemeluk agama Islam yang dikabarkan telah memberikan perlakuan kurang baik kepada peziarah-peziarah Kristen ke Tanah Suci itu. Selain motif agama, terdapat juga motif-motif lain yang mendorong sebagian pesertaexpedisi-expedisi Perang Salib itu. Diantara expedisi-expedisi yang terpenting yaitu: Perang Salib I (1096-1099), Perang Salib II (1147-1150), dan Perang Salib III(1189-1192). Perang Salib tidak  berhasil mencapai tujuan utamanya yaitu menguasai kembali Jerusalem.

f.    Pemerintahan Richard I (1189-1199)

Richard si Hati Singa lebih terkenal sebagai pahlawan Perang Salib III, dan sebagai jago perang ia tentunya kuran tertarik kepada soal-soal rutin administrasi pemerintahan. Hak-hak khususnya sebagai raja ia gadaikan kepada adiknya John, dan bangsawan-bangsawan kaya. John pada waktu itu sudah terkenal sebagai orang yang tidak bijaksana dan sukar dipercaya. Selama masa pemerintahan Richard, sesungguhnya pimpinan pemerintahan dipegang oleh para justiciar, yaitu hakim agung dan pejabat kerajaan tertinggi,mula-mula William Longchamps dan kemudian Hubert Walter. Hubert Walterberhasil dalam menjaga ketertiban dan keamanan, dan selain itu ia menempuh suatu kebijaksanann baru dengan memberikan kepercayaan dan tanggung jawab lebih besar kepada golongan menengah di kota-kota. Pemerintahan yang dijalankan Hubert Walter hanya 4 tahun dan berakhir ketika Richard I yang diwakilinya terbunuh diPrancis. Pemerintahan selanjutnya dipegang oleh John.

g.    Magna Charta

Raja John (1199-1216) sering dianggap sebagai raja terburuk yang pernah memerintah di Inggris. Pemerintahan John bahkan dapat dianggap sebagai rahmat terselubung karena tindakan-tindakan negatif yang dilaksanakannya justru menghasilkan akibat-akibat positif bagi bangsa Inggris. Pertama, orientasi golongantasan Inggris, baik kultur ekonomis maupun politis semakin jauh dari Prancis danlebih tertuju kepada Inggris.  Kedua, lahirnya Magna Charta yang merupakan dasar kongkrit bagi konstitusi Inggris. Magna Charta (Piagam Agung) ditandangani oleh John untuk memenuhi tuntutan para bangsawan pada pertengahan tahun 1215. Magna Charta atau The Great Charter berisi masalah-masalah khusus, dan yang terpenting ialah bahwa tidak  boleh lagi dipungut pajak-pajak tambahan tanpa persetujuan  Great Council (Majelis Agung), dan menangkap orang bebas (freeman) adalah tindakan melawan hukum kecuali jika sesuai dengan penilaian sah para atasan orang tersebut atau sesuai dengan hukum yang berlaku. Magna Charta sepanjang sejarah bangsa Inggris menjadi pegangan pokok bangsa itu dalam mempertahankan hak-hak serta kebebasannya terhadap kesewenang-wenangan para penguasa. Raja John menghianati piagam itu sendiri segera setelah ia menandatanganinya. John meninggal tahun  1216 dan tahta kerajaan diserahkan kepada puteranya yang berumur 9 tahun yang memerintah sebagai Henry III.

 

3. Kehidupan Politik Dan Keagamaan Inggris

1. Kehidupan Politik ( Zaman pertengahan)

a. Pemerintahan Henry III (1216-1272)

Henry III dinobatkan menjadi raja pada saat berusia 9 tahun. Henry adalah pemimpin yang cenderung lemah dan kurang negarawan. Dalam pemerintahanya ia dibantu oleh dewan dan beberapa uskup. Kelemahan henry dimanfaatkan oleh beberapa pihak terutama pimpinan gereja dari roma dan bebebrapa kerabat dari prancis. Tindakan kurang menyenangkan dari roma tersebut membuat masyarakat inggris Antipati denagn Roma. Ketidaksenangan masyarakat terhadap pemerintahan Henrry juga dipicu dengan leluasanaya pemerintah pada saat itu memberikan jabatan-jabatan penting dalam pemerintahan kepada teman dan kerabat dekatnya, selain itu adanya kegagalan politik luar Negeri yang mahal. Hal itu kemudian mendorong adanya pemberontakan dari masyarakat. Kemudian mereka menuntut henry menyerahkan pemerintahanya kepada 15 dewan yang di sebut Barons. Para barons tersebut juga menghendaki orang- orang asing yang menduduki jabatan dalam pemerintahan untuk dipecat. Namun kemudian  Barons tersebut mengalami perpecahan. Akhirnya terjadi peperangan yang kemudian mengakhiri pemerintahan Henry III.

b. Pemerintahan Edward I dan Lahirnya Parlemen Inggiris

Istilah parlement yang berarti musyawarah atau diskusi pertama kali dipergunakan pada masa pemerintahan Henry III sejak adanya great Council atau majelis agung yang merupaka majlis para barons. Badan ini bukanlah dewan perwakilan, tidak diserahi tugas-tugas yang digariskan secara tegas. Majelis ini membicarakan permasalahan kerajaan, politik, keuangan, peperangan, dll. Henry biasanya meminta pendapat dari  knightsn yang merupakan wakil dari masing-masing kota yang biasanya menghadap raja untuk membicaraka permasalahan-permasalahan setempat. Dengan demikian kemudian terwujudlah suatu dewan perwakilan wujud dari  konsekwensi wajar suatu proses yang sudah berjalan. Dibawah pemerintahan Edward I badan ini kemudian dikenal dengan sebutan  parliement (parlement) yang kemudian semakin nyata bentuk dan fungsinya, raja Edward mengambil pelajaran dari pemerintahan ayahnya bahwa pemerintahan kerajaan akan berjalan lancar apabila raja dan penerintahanya berhubungan erat dengan rakyatnya. sistem parlement ini semua element pemerintahan raja, Majelis Agung, gerejawan,  knighth dapat berkumpul untuk memusyawarahkan permasalahan-permasalahan yang terjadi. Edwar menyadari bahwa dengan cara seperti itu dapat memperlancar urusan pajak. Selain itu perwakilan dari  County  dapat menyampaikan usul dan keluhan dari masyarakat dari lapisan bawah, sehingga dapat mencegah adanya tindakan penyelewengan.

Dengan adanya County tersebut menimbulkan kesadaran bagi masyarakat dari daerah bahwa dirinya adalah bagian dari pemerintahan yang kemudian memupuk kesadaran Kenegarawanan Inggris. Parlemen masih berbentuk satu majelis dan belum dibagi  House Of commons majelis rendah. Dalam pemerintahan Edward parlemen masih taraf permulaan, namun dasar- dasar bagi perkembangan selanjutnya sudah diletakan. Kebijaksanaan pada masa pemerintahan Edward dalam bidang politik adalah pemantapan parlemen, pembaharuan Hukum, salah satunya adalah hukum pertanahan. Mengatur adanya pajak pada Gereja dan tidak terpengaruh dengan Roma walaupun dia adalah seorang yang taat beragama, selain itu pada masa pemerintahan Edward diterapkan Bea masuk sebagai sarana pembangunan keadaan ekonomi Inggris pada waktu itu.

c. Edward II dan Edward III

Edward II adalah pemimpin yang mempunyai tipikal lemah dan mudah dipengaruhi oleh para penasehat-penasehat ambisius. Dalam keadaan seperti itu kemudian dimanfaatkanm oleh para pemimpin agung untuk merebut kekuasaan lagi. Kemudian timbul konflik antara raja dan para bangsawan. Namun konflik- konflik tersebut tidak mempengaruhi jalannya keadaan masyarakat, rakyat cenderung hidup tenang dan damai. Hal itu merupakan suatu bukti kemantapan lembaga-lembaga pemerintah yang berangsur-angsur tumbuh. Demikian pula parlemen tidak terpengaruh denagn adanya konflik-konflik tersebut,  justru terkadang parlemen dijadikan sebagai penengah dalam konflik yang terjadi. Pada pemerintahan Edward III , ia berhasil memulihkan kewibawaan seorang raja. Pertama ia melakukan penyempurnaan dalam aparatur pemerintah dengan diangkatnay justices of the peace di setiap  county yang bertugas membatu pemerintah dalam melaksanakan permasalahan di masing-masing daerah. Dalam pemerintahan Edward III lebih terbuka dengan bangsa asing, sehingga hal itu mempermudah pihak asing memberikan bantuanya dalam berperang. Skotlandia akhirnya dapat ditaklukan pada tahun 1333. Namun kemudian setelah 8 tahun melepaskan diri lagi.

d. Perang Seratus Tahun

Perang seratus Tahun adalah perang antara monarki inggris dan perancis. Salah satu penyebab perselisihan ini adalah bahwa monarki inggris masih menguasai daerah selatan perancis yaitu Gascony. Perselisiahn ini semakin diperburuk dengan adanya persekutuan prancis dengan Skotlandia yang mempersulit inggris untuk menguasai skotlandia. Di bidang ekonomi terdapat persaingan dalam masalah angkatan laut sehingga sering terjadi bajak membajak. Sealin itu peperangan dipicu dengan kenyataan bahwa pada zaman Pertengahan Inggis merupakan negara eropa yang terkuat walaupun relatif kecil. Hal itu dikarenakan pemerintahan serta lembaganya yang berhasil menjaga keamanan dan ketertiban dalam negeri. Di sisi lai Prancis mempunyai daya tarik yang besar bagi orang-orang inggris karena negara itu lebih luas, besar, beradap dan kaya. Namun masih lemah karena tidak mempunyai pemerintahan yang baik. Peperangan ini berlasung lama yang kemudian menumbuhkan rasa nasionalisme dalam diri ke dua negara. Dalam perang tersebut pasukan prancis terdiri dari beberapa kalangan bangsawan dan para vasalnya sesuai dengan kebiasaan bangsa feodal. Sementara itu pasukan inggris terdiri dari prajurit-prajurit wajib militer yang berasal dari bangsawan maupun orang bebas yang dipilih dari setiap County. Selain itu pasukan terdiri dari para sukarelawan dan beberapa yang dibayar oleh para bangsawan yang mempunyai ambisi dalam perang tersebut. Dalam perang tersebut kemenangan berhasil diraih oleh prancis yang semangat nasionalismenya mulaimeluap-luap. Perang tersebut banyak menimbulkan dampak positif maupun negatif bagii nggris. Dalam bidang politik, inggris menjadi negara yang tidak lagi mudah terlibat dengan permasalahan-permasalahan di dataran eropa. Dengan kehilangan daerah-daerah di prancis maka pemnerintah dapat lebih berkonsentrasi terhadap permasalahan- permasalahan dalam negeri.

 

e. Kemajuan Ekonomi dan pendidikan

Walaupun sempat terjadi kekacauan pada saat adanya peperangan seratus tahun, dalam bidang-bidang lain seperti Ekonomi dan pendidikan Inggris mengalami kemajuan. Dalam bidang ekonomi dapat dilihat dari meningkatnya produksi dan eksport Wol yang mendorong para pedagang mencari eksport baru. Secara otomatis itu mendorong kemajuan pelayaran dan perniagaan. Kehidupan golongan menengah meningkat dan hal itu berpengaruh pula terhadap kemajuan negara secara umum.

Dalam bidang pendidikan adalah banyak didirikanya sekolah-sekolah, para pengusaha dan bangsawan turut berperan dalam memberikan sumbangan bagi kemajuan pendidikan di inggris. Nama-nama sekolah yang didiriakn pada saat itu adalah public Schools ( orang awam), king’s college ( Henry VI), queen’s schools, Grammars Schools, universitas Cambridge. Bayaknya sekolah yang didirikan tersebut semakin menumbuhkan minat masyarakat untuk sadar pendidikan mulai dari kalangan bawah sampai atas. Sejak saat itu masyarakat lebih tertarik mempelajari ilmu pengetahuan.

2. Reformasi keagamaan ( zaman Tudor )

a. Surutnya zaman Peretngahan

Sebagaimana halnya setiap perubahan masyarakat pasti ada faktor- faktor  penyebabnya. Faktor-faktor ini bersifat Ekonomi, sosial, politis dan kultural. Pulihnya kembali keamanan yang memungkinkan tumbuhnya kota-kota besertagolongan menengah yang merupakan saingan bagi golonagn bangsawan. Makin besarnya peranan uang dalam tata kehidupan masyarakat mendesak tata- ekonomi feodal berdsarkan pada pertukarang barang dan jasa. Pada zaman ini lembaga negara seperti comon law memperkecil adanya monopoli dari golongan bangsawan. Terbitnya zaman Modern di inggris ditandai di bidang politik dengan semakin menonjolnya peranan dan kekuasaan negara nasional dengan raja sebagai pucuk pimpinanya. Konsolidasi negara nasional serta penyesuaian lembaga-lembaga dengan situasi baru ini berlangsung selama pemerintahan Raja-raja dari zaman Tudor.

 b. Henry VII dan konsolidasi Negara Nasional

Dalam menghadapi permasalahan dan pemulihan keamanan Henry VII bertindak bijaksana dan mantap dengan tujuan yang ingin dicapainya. Henry tidak mempunyai birokrasi yang dibayar. Untuk melaksanakan tugasnya ia menggunakan lembaga-lembaga yang sudah ada. Yaitu dewan raja, parlemen “common law”. Justices of the peace, dll. Dewan raja yang berada di bawah dinasti tudor ini tidak berasal dari kalangan bangsawan, namun berasal dari orang- oramg yang cakap dan mampu menjalankan tugas dengan baik. Dewan Raja tidak hanya bertugas di bidang eksekutif namun juga di bidang legislatif dan yudikatif. Ditingkat daerah, dewan raja diwakili oleh para  gentry . Di zaman Dinasti tudor sebagian kekayaan berasal dari golongan menengah yang melakukan produksi misalnya Produksi Wol yang cenderung tidak terpengaruh dengan adanya permasalahan-permasalahan keagamaan maupun permasalahan pemerintahan. selain itu pada masa pemerintahan Henry VII ini, kebijaksanaanya berhasil membawa kemantapan Nasionalisme dan meningkatkan kemakmuran masyarakat inggris, Ia tidak menghendaki adanya peperangan yang hanya akan menghambur-hamburkan harta dan jiwa masyarakat inggris.

c. Reformasi dan Permasalahan Keagamaan

Reformasi negara Inggris pada tahun 1509-1547 terjadi pada masa raja Henry VIII, yang di dampingi oleh penasehatnya Thomas Wolsey yang mempunyai kelebihan dalam membangun politik luar negri baik, dikenal dengan politik “berimbang kekuasaan” yaitu politik yang dimiliki inggris dengan cara memihak negara-negara besar eropa yang terbukti efektif untuk menjaga ketertiban di daerah eropa seperti Prancis dan Spanyol, sebagai cara untuk menghilangkan dominasi dari kedua negara itu. Reformasi dalam hal ini dilatarbelakangi oleh rakyat Inggris yang  sudah tidak tahan lagi dengan doktrin-doktrin keagamaan yang dibuat oleg Gereja katolik Roma. Banyak kemudian muncul gerakan-gerakan Rokhaniawan untuk  melakukan. Pembaharuan gereja yang dipimpin oleh john Wycliffe yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Gerakan itu lebih cenderung mengarah pada ajaran Protestan. Dan gerakan tersebut disambut baik oleh rakyat inggris. Menjelang akhir abad ke15 terdapat peningkatan dalam bidan ilmu pengetahuan, akibat dari membaiknya keamanan dan peningkatan sebagai usaha Henry VIII dan masuknya pahan Renaissance. Para sarjana inggris yang pulang dari Italia membawa minat baru dalam bidang kedokteran, sastra, Tata bahasa. Hal itu sangat berbeda apabila dibandingkan pada zaman pertengahan yang dikenalsebagai zaman gelap karena dibatasi oleh ketentuan-ketentuan gereja.

Selain adanya revolusi keagamaan tersebut masih terdapat unsur- unsur lainnya yang tidak kalah pentingnya yaitu Anti- Klerisme dan Nasionalisme. Sebagai akibat dari kelemahan Rokhaniawan sendiri, gereja telah kehilangan pemimpin intelektuil dan di bidang moril. Hak- hak istimewa yang berupa harta dan kekuasaan membuat ketidaksenangan masyarakat Inggris terhadap kaum rokhaniawan gereja Roma. perasan tidak sengan tersebut juga ditimbulkan oleh rasanasionlisme yang semakin kuat. Masyarakat tidak lagi menerima begitu saja campur tangan kekuasaan gereja dalam hal ini adalah paus.

Selain itu juga adanya gerakan Protestanisme dari jerman yang berpangaruh terhadap reaksi- reaksi dari masyarakat, ada yang bergabung dalam gerakan tersebut ada pula yang beralih pada Agama Ortodox. Pada dasarnya raja Henry VIII adalah penganut gereja katolik, namun karena adanya permasalahan pribadi akhirnya terjadi perpecahan hubungan antara kerajaan dan Gereja Roma, dan hal itu sebagai penyebab khusus adanya revolusi keagamaan di inggris. Pada waktu itu Henry VIII tidak mempunyai keturunan laki-laki, dan paus memberikan pengesahan kepadanya Untuk menikahi janda kakaknya chaterin aragon padahal ia ingin menikahi Ana boyle sebagai keturunan Spanyol. Walaupun itu dilarang namun paus mengesahkanya karena adanya permasalahan pribadi gereja roma dengan negara spanyol. Semenjak peristiwa itu henry VIII menyadari bahwa selama ini inggris mengalami ketimpangan kedaulatan. Sebagai negara yang berdaulat seharusnya inggris harus dapat menentukan sendiri segala urusan yang terjadi di dalam negri tanpa campur tangan dari pihak lain.

Keputusan pisah dengan gereja roma tersebut di sambut baik oleh Parlemen, Parlemen kemudian memperoleh posisi yang semakin penting karena semenjak itu parlemen selalu disertakan dala segala pengambilan keputusan pemerintah, hal itu mempertegas fungsi organisasi itu dalam pemerintahan inggris. Undang- undang yang dibuat oleh parlemen salah satunya yang terpenting adalah  supermacy act´1534 yang berisi tentang kemerdekaan gereja.

Inggris dan Raja sebagai pemimpin Tertinggi. Selain itu mengenai UU pembubaran Biarawati yang ada di inggris dan menyita harta dan tanah sebagai fasilitas yang diberikan negara. Pembubaran dan penyitaan itu dilakukan dengan alasan bahwa para Biarawati dan Rokhaniawan gereja roma menjadi sarang takhayul dan menggunakan fasilitas negara untuk hidup bermewah-mewahan dan jauh dari ajaran agama bahkan tidak menjalankan ibadah. Selain itu penyitaan itu sebagai cara untuk kembali mengisi kas negara yang kosong. Kitab injil diterjemahkan dalam bahasa inggris dan bebas untuk diedarkan.

Ketidakjelasan dalam permasalahan Keagamaan masih dirasakan sampai Henry VIII meninggal. Namun satu hal dari kenyataan itu adalah Supermacy negara atas Gereja. Inilah salah satu pondasi yang diletakan oleh Henry VIII bagi Inggris di zaman modern. Kepribadian Henry yang luar biasa berhasil meletakan dasar-dasar utama bagi pertumbuhan negaranya. Dengan cara pemulihan ketertiban umum serta kewibawaan pemerintahannya, eliminasi kekuatan para bangsawan agung merupakan saingan bagi pemerintah nasional. Pemerintahan Monarki melalui dewan raja dan perlemen berwenang dalam semua segi kehidupan bangsa (Omnicompetent), pengelolaan Ekonomi, pembentukan angkatan laut kerajaan. Setelah Henry VIII digantikan anaknya yaitu Edward VI permasalahan agama ditangani dengan lebih toleran, kebebasan rakyat untuk memilih agama katolik atau protestan sangat dihargai. Kemudian diciptakanya “Prayer book” yang ternyata sesuai dengan apa yang di inginkan sebagian rakyat inggris, namun kemudian pada pemerintahan Marry permasalahan agama yang bertahun-tahuntelah mengalami perbaikan akhirnya kembali pada kondisi lama yaitu pemaksaan keyakinan untuk menaati doktrin -doktrin gereja Katolik roma. Mary ingin menghilangkan revolusi keagamaan dan kebanggaan Nasional rakyat inggris yang telah susah payah dicapai. Dia juga membangun hubungan baik dengan spanyol denagn cara menikah dengan Raja philip. Namun pernikahan tersebut justru membawa kerugian bagi Inggris karena spanyol tidak mau tersaingi oleh inggris dalam perdagangan sehingga terkadang Philip menggunakan cara-carayang licik untuk mengelabuhi perdagangan Inggris. Mary kemudian mengaktifkan kembali Undang-undang kemurtadan dan merubah UU keagamaan yang telah dibuat sebelumnya. Banyak rakyat inggris yang dibakar hidup-hidup karena melanggar doktrin gereja katolik roma peristiwa itu dikenal dengan sebutan “Bloody marry”. Hal tersebut semakin menguatkan pendapat umum masyarakat untuk antipati mendalam terhadap gereja Katolik roma dan memperkuat semangat protestanisme.

d. Penyelesaian Permasalahan Agama ( Elizabeth1558-1603)

Penyelesaian permasalahan agama merupakan kebijaksanaan pada masa pemerintahan Elizabet 1. Dia berhasil melakukan pendekatan dengan kaum katolisme dan protestanisme. Dalam usahanya dia bersama parlemen membuat undang-undang untuk meniadakan gereja katolik roma dan meniadakan kekuasaan paus. Dan dibuatnya  “book of common prayer” satu-satunya buku kebaktian yang sah dan membentuk gereja Nasional yaitu gereja Anglikan denganmonarki Inggris sebagai pimpinan tertinggi. Pada waktu itu masih banyak  perlawanan dari Gereja katolik roma untuk menumbangkan gereka Anglikan bahkan dengan cara membuang ratu dari gereja katolik dan berusaha mempengaruhi masyarakat untuk tidak mematuhi perintah ratunya. Disamping itu juga timbul golongan separatis dari kaum Protestan radikal yang menolak adanya gereka nasional. Namun secara umum usaha pemecahan yang dilakukan oleh ratu elizabeth 1 merupakan kebijakan yang tepat, terbukti gereja Anglikan masih bertahan sampai saat ini. Disamping penyelesaian permasalahan agama Elizabet juga memprakarsai kebijakan mengenai perdamaian dengan Skotlandia, Pengukuhan negara nasional, memperluas Ekspansi perdagangan internasional, kejayaan armada laut diatas Spanyol. Di bawah pemerintahan raja-raja Tudor tumbuh kesadaran dan kebangsaan nasional yang kuat bersamaan dengan semakin mantapnya keadaan di dalam negeri dan semakin menanjaknya martabat negara dalam percaturan politik di Eropa. Pada masa James 1(1603-1625) terdapat pertegangan antara kaum High Church (katolik) dengan kaum Puritan (orang protestan extrim). Situasi ini diwariskan kepada pemerintahan Charles 1 (1625-1649). Konflik ini mendorong perang dengan Skotlandia. Perpecahan antara kelompok Puritan (parlemen) dengan Anglikan semakin memanas ketika ada pembunuhan besar-besaran dan terjadilah perang saudara. Setelah kematian Charles, Inggris berubah menjadi negara republik. Calon anggota parlemen adalah nama-nama yang diajukan oleh gereja. Namun pemulihan monarki Inggris dilakukan oleh orang-orang katolik yang mengusung Charles II menjadi raja. Namun usaha itu ditentang oleh Cromwell. Perang laut antara Inggris dan Belanda berlangsung karena adanya kebijakan Inggris yang merugikan Belanda. Perang laut kemudian mengalihkan sasarannya kepada Spanyol yang sejak lama tidak memberi kebebasan kepada para pedagang bukan Spanyol untuk berdagang dengan negeri-negeri jajahannya. Perang tersebut membawa kemenangan bagi Inggris. Kematian Cromwell membawa Inggris ke bentuk semula yaitu monarki dengan dipimpin Charles II.

Cara-cara radikal ke arah perubahan menemui jalan buntu, Inggris kembali ke cara-cara yang tidak meninggalkan lembaga-lembaga tradisionil. Antara kekuatan raja dengan parlemen sama besar sehingga ketegangan pun terjadi. Charles II melaksanakan pemerintahan dengan raja absolut dan agama khatoliknya. Dia mencoba meniru model Prancis, dan kerjasama rahasia dengan Prancis pun dilakukan. Namun terjadi kecurigaan oleh Parlemen sehingga Charles mengubah siasat. Charles mencoba mencari dukungan parlemen. Dalam keadaan ini parlemen mengelompok ke dalam dua kelompok yaitu kelompok yang mendukung raja dan Gereja Anglikan dinamakan “Tories”, sedangkan kelompok yang menghendaki monarki konstitusionil dengan seorang monarki Protestan dan bersikap toleran terhadap kaum “dessenters” dinamakan “whigs”. Sementara itu Charles bersekutu dengan Belanda untuk melawan Prancis dan Katolisisme. Persekutuan ini dikarenakan Inggris percaya bahwa di bawah monarki Protestanlah kelangsungan hidup sistem parlementer dan Gereja Anglikan dapat dijamin.

Charles II diganti James II (1685-1688) yang beragama Katolik. Dalam pergantian ini James mendapat dukungan partai Tory dengan catatan James akan memenuhi janjinya untuk memisahkan urusan agama dengan urusan negara. Namun James  menginginkan  untuk  mengembaikan  inggris ke pengakuan Gereja Katolik Roma. Orang-orang Katolik diangkat menjadi pejabat negara, gereja, universitas, bahkan gereja. Tahun 1685 Duke of Monmouth mendarat di Inggris barat daya untuk merebut tahta yang mendapat dukungan dari kaum menengah bawah yaitu kaum Puritan, namun pemberontakan Monmouth berhasil ditumpas dengan tindakan-tindakan kejam. Monmouth dan pengikutnya pun di hukum mati. Hal tersebut menyebabkan kekuatan oposisi terhadap James II semakin kuat, yaitu kaum Tory yang selama ini mendukungnya dan kaum Whig. Keduanya bersatu dan mengusung William of Orange. Bangsa Inggris khawatir akan terjadi kekejaman jika kaum Katolik menang. Kemelut terjadi ketika James mengeluarkan “Declaration of Indulgence” yang membatasi kaum Katolik dan dissentres karena pada dasarnya pengangkatan tersebut menyalahi undang-undang. Harapan kebebasan rakyat Inggris musnah ketika lahir anak James II yang tentunya akan menjadi pimpinan dengan didikan Katolik.

James II diturunkan dari tahta kerajaan oleh parlemen. Disusunlah Declaration of Rights yang menyerahkan mahkota Inggris kepada William dan Mary. Sejak saat itu tidak ada lagi seorang monarki Inggris yang dapat memerintah atas dasar hak ketuhanan/divine right, dalam hal ini raja harus melaksanakan tugas sesuai dengan kehendak Parlemen. Parlemen mengubah Declaration of Right menjadi  Bill of Right  yang menandai berakhirnya kemelut antara Parlemen dan Monarkhi yang berlangsung seabad. Secara garis besar ketentuan-ketentuan dalam Bil of Right adalah: (1) Raja tidak dapat memungut pajak tanpa persetujuan Parlemen; (2) Raja tidak boleh mempunyai pasukan tetap selama masa damai tanpa persetujuan Parlemen; (3) Seorang Katolik tidak boleh menjadi Raja atau Ratu Inggris; (4) Raja tidak boleh menangguhkan berlakunya undang-undang;(5) Parlemen harus sering bersidang dan dalam sidang para anggota dapat melakukan debat secara bebas; (6) Hamba-hamba kerajaan hendak mengajukan petisi pada Raja tanpa rasa takut dan dituntut; (7) Orang-orang yang dituduh melakukan kejahatan tidak boleh diadili tanpa juri dan tidak boleh dihukum secara berlebihan. Peritiwa-peristiwa yang berlangsung ini disebut “Glorious Revolution”atau  Revolusi Gemilang.

2.4 Kerajaan Nasional di Perancis

Kerajaan Nasional Prancis dirintis sejak Lous IX dari dinasti Capet abad 13 yang berhasil memperluas Royal Domein meliputi separuh dari wilayah Prancis. Namun ada salah satu masalah yaitu pertikaiannya dengan Vasalnya yang kuat yang sekaligus adalah raja Inggris. Perang 100 tahun melawan Inggris yang telah disinggung di atas telah menumbuhkan sentimen nasional di Prancis. Kematian seorang pahlawan wanita Prancis bernama Joan d’Aarc ( Jeanne d’Arc) pada tahun 1431 telah menjadi faktor pemersatu. Pada mulanya perang bercorak perang feodal berakhir menjadi perang nasional. Sebagai penjelasan berikutnya dapat Anda baca uraian Kerajaan Nasional Belanda berikut ini.


Advertisement
Continue Reading Below